Analisis Strategi Bersaing Pada PT Rumah Mocaf Indonesia
Nila Nadya Rahma, Ely Susanto, S.IP., MBA., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Manajemen
Peningkatan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya pola makan sehat telah mendorong pergeseran preferensi konsumsi menuju produk pangan yang dinilai lebih aman dan bergizi. Selain itu, meningkatnya perhatian klinis terhadap penyakit terkait gluten seperti penyakit celiac yang kini mulai lebih banyak terdiagnosa di daerah tertentu turut membuka peluang bagi berkembangnya produk pangan bebas gluten di pasar domestik. Dalam konteks tersebut, tepung mocaf hadir sebagai alternatif yang tidak hanya lebih baik dari sisi kesehatan, tetapi juga berpotensi menguatkan ketahanan pangan nasional mengingat bahan baku tepung mocaf yang berupa singkong sangat melimpah di Indonesia. Rumah Mocaf Indonesia melalui merek Mocafine merupakan salah satu pelopor industri mocaf berbasis sociopreneur yang berfokus pada pemberdayaan petani singkong. Namun, Mocafine masih menghadapi persaingan ketat dari industri tepung terigu dan produsen mocaf berskala besar sehingga memerlukan strategi bersaing yang tepat untuk memperkuat posisinya di pasar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi lingkungan eksternal dan menganalisis sumber daya serta kapabilitas Mocafine sebagai basis perumusan strategi bersaing yang tepat bagi perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretatif dengan kerangka kerja Porter’s Five Forces untuk analisis lingkungan eksternal. Sedangkan, analisis lingkungan internal dilakukan dengan mengukur sumber daya dan kapabilitas melalui kerangka kerja VRIO. Analisis kedua lingkungan tersebut digunakan untuk memformulasikan strategi bersaing Mocafine yang didasarkan dengan pendekatan matriks SWOT.
Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi bersaing yang direkomendasikan bagi Mocafine adalah strategi diferensiasi terfokus. Strategi ini diharapkan mampu memperkuat posisi Mocafine dalam industri produk bebas gluten dan mendukung keberlanjutan bisnis sekaligus dampak sosial perusahaan di masa mendatang
The growing awareness of healthy eating among Indonesian consumers has driven a shift in dietary preferences toward food products perceived as safer and more nutritious. In addition, increasing clinical attention to gluten-related disorders such as celiac disease—which has begun to be more frequently diagnosed in certain regions—has created market opportunities for gluten-free products in the domestic food sector. In this context, mocaf flour emerges as an alternative that not only offers better health benefits but also supports national food security, considering that cassava, the main raw material of mocaf flour, is abundantly available in Indonesia. Rumah Mocaf Indonesia (RMI), through its Mocafine brand, is one of the pioneers in the mocaf industry operating under a sociopreneurship model that focuses on empowering cassava farmers. Nevertheless, Mocafine faces intense competition from the wheat flour industry and larger mocaf producers, requiring an appropriate competitive strategy to strengthen its market position.
This study aims to identify the external environment and analyze the internal resources and capabilities of Mocafine as the foundation for formulating an appropriate competitive strategy. A qualitative interpretive approach was applied, employing Porter’s Five Forces framework to assess the external environment. Meanwhile, the internal environment was analyzed by evaluating resources and capabilities using the VRIO framework. Insights from both analyses were then integrated using a SWOT matrix to formulate Mocafine’s competitive strategy.
The findings indicate that the recommended competitive strategy for Mocafine is focused differentiation. This strategy is expected to enhance Mocafine’s competitive position in the gluten-free product industry while ensuring business sustainability and maintaining the company’s social impact objectives.
Kata Kunci : strategi bersaing, VRIO, SWOT, diferensiasi terfokus, tepung mocaf, sociopreneur, Mocafine