Laporkan Masalah

Maskulinitas Tokoh Pria dalam Novel Ati Dudu Watu Karya Bambang Saparyono

Jifani Wahyu Anggra Rani, Dra. Wiwien Widyawati Rahayu, M.A.

2026 | Skripsi | SASTRA NUSANTARA

Novel Ati Dudu Watu karya Bambang Saparyono dipilih sebagai objek penelitian ini. Novel berbahasa Jawa tersebut menceritakan tentang konflik keluarga keturunan darah biru yang dipicu oleh kekhawatiran seorang ibu terhadap anak semata wayangnya, yaitu Pranata. Analisis ini menitikberatkan pada dua tokoh laki-laki, yaitu Pranata dan Eyang Nindya, karena keduanya memiliki peran penting dalam membangun alur cerita serta merepresentasikan maskulinitas yang dikaji. 

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bagaimana maskulinitas hegemonik dan maskulinitas yang rapuh tecermin pada tokoh Pranata dan Eyang Nindya. Kemudian, teori yang digunakan sebagai pisau analisisnya, yaitu maskulinitas hegemonik Raewyn Connell dan model Expectancy-Discrepancy-Threat (EDT) yang dikembangkan Stanaland et al. untuk mengidentifikasi maskulinitas yang rapuh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang dilakukan melalui proses pengumpulan data dan analisis data.

Hasil dari penelitian ditemukan bahwa maskulinitas hegemonik yang berkembang dalam novel Ati Dudu Watu, khususnya di lingkungan priyayi tecermin melalui lima karakteristik, yaitu: 1. laki-laki diposisikan sebagai pewaris yang bertanggung jawab untuk meneruskan garis keturunan keluarga; 2. anggapan mengenai kemampuan reproduksi laki-laki; 3. otoritas laki-laki dalam mengatur relasi dan menjaga tatanan sosial; 4. pernikahan yang didasarkan pada pertimbangan bobot, bibit, bebet, dan 5. poligami sebagai bagian dari identitas laki-laki priyayi. Tokoh Eyang Nindya merepresentasikan maskulinitas hegemonik karena memiliki status sosial yang tinggi, kekayaan, serta kewibawaannya di masyarakat. Sementara itu, Pranata berada dalam posisi maskulinitas yang rapuh, karena ada diskrepansi antara dirinya sendiri dengan ekspektasi sosial maupun gambaran diri ideal yang ia inginkan. Kondisi tersebut kemudian memunculkan respons internal berupa perasaan minder dan ketidakmampuannya dalam mengambil keputusan secara mandiri.

The research is based on a novel Ati Dudu Watu by Bambang Saparyono. The Javanese novel tells the story when a mother becomes concerned about her only son, Pranata. This study focuses on two male characters, Pranata and Eyang Nindya. Aims to examine how hegemonic masculinity and fragile masculinity are represented in the characters of Pranata and Eyang Nindya. The theory used is Raewyn Connell's theory of hegemonic masculinity and model Expectancy-Discrepancy-Threat (EDT) Stanaland et al. to identify fragile masculinity. This research uses a qualitative descriptive method. 

The results of this study that hegemonic masculinity in the novel Ati Dudu Watu, especially within the priyayi environment, is reflected through five characteristics: 1. men are positioned as heirs responsible for continuing the family lineage; 2. men always have the ability to reproduce; 3. the authority of men in managing relationships and maintaining social; 4. marriage is based on considerations of  bobot, bibit, bebet; and 5. polygamy as part of the priyayi identity. Eyang Nindya represents hegemonic masculinity and Pranata occupies a position of fragile masculinity because there is a discrepancy between oughtf-self and ideal-self. This condition leads to internal responses such as feelings of inferiority and an inability to make independent.

Kata Kunci : novel Jawa, priyayi, maskulinitas hegemonik, maskulinitas yang rapuh

  1. S1-2026-502705-abstract.pdf  
  2. S1-2026-502705-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-502705-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-502705-title.pdf