Peran Komunikasi Lingkungan dalam Mengatasi Konflik Manusia dan Harimau (Studi Kasus: BBSKDA Riau di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan Periode Januari – Desember 2024)
Ronald Del Piero, Prof. Dr. Ana Nadhya Abrar, M.E.S
2026 | Tesis | S2 Ilmu Komunikasi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi lingkungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dalam mengatasi eskalasi konflik manusia dan Harimau Sumatera di Desa Pulau Muda sepanjang tahun 2024. Masalah utama penelitian berakar pada tingginya intensitas konflik akibat degradasi habitat dan kesenjangan persepsi masyarakat yang memandang satwa sebagai ancaman, sehingga menuntut strategi komunikasi yang melampaui mitigasi teknis semata. Menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode studi kasus kualitatif, penelitian ini mengadopsi kerangka teori Komunikasi Lingkungan Robert Cox untuk membedah fungsi pragmatis dan konstitutif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumen. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa BBKSDA Riau menerapkan strategi komunikasi adaptif melalui tiga dimensi utama: pembentukan persepsi, wadah komunikasi, dan ruang dialog. Secara pragmatis, institusi menjalankan prinsip Crisis Discipline melalui mekanisme respons darurat dan komunikasi lintas sektoral. Secara konstitutif, ditemukan penerapan strategi Cultural Framing yang merekonstruksi identitas harimau dari "hama" menjadi "Dokter Hutan" dan "Datuk" melalui pelibatan tokoh adat yang inklusif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hibridasi antara narasi sains dan kearifan lokal dalam komunikasi lingkungan berhasil mengubah "Lanskap Ketakutan" menjadi kesadaran kolektif, yang menjadi fondasi fundamental bagi tercapainya koeksistensi berkelanjutan antara manusia dan satwa liar di wilayah konflik.
This study aims to analyze the role of environmental communication performed by the Riau Natural Resources Conservation Center (BBKSDA) in addressing the escalation of human-Sumatran tiger conflicts in Pulau Muda Village throughout 2024. The research problem centers on the high intensity of conflicts driven by habitat degradation and a perception gap where the community views wildlife primarily as a threat, requiring communication strategies that go beyond mere technical mitigation. Utilizing a constructivist paradigm with a qualitative case study method, this research adopts Robert Cox’s Environmental Communication theoretical framework to dissect pragmatic and constitutive functions. Data collection was conducted through in-depth interviews, participant observation, and document review. The results reveal that BBKSDA Riau implements adaptive communication strategies through three key dimensions: shaping perception, vehicles of communication, and the public sphere. Pragmatically, the institution executes Crisis Discipline principles through rapid response mechanisms and cross-sectoral communication. Constitutively, a Cultural Framing strategy was identified, reconstructing the tiger’s identity from "pest" to "Forest Doctor" and "Datuk" (respected elder) through the inclusive engagement of traditional leaders. This study concludes that the hybridization of scientific narratives and local wisdom in environmental communication successfully transforms the "Landscape of Fear" into collective awareness, serving as the fundamental foundation for achieving sustainable coexistence between humans and wildlife in conflict areas.
Kata Kunci : Komunikasi Lingkungan, Konflik Manusia-Harimau, Fungsi Konstitutif, Robert Cox, Cultural Framing, Koeksistensi.