Essay on Women on Boards, Sustainability Performance, and ESG Washing: Cross-Country Evidence from the Global Banking Sector
Ahmad Fauzan Fathoni, Prof. Mamduh M.Hanafi, MBA., Ph.D; Prof. Eduardus Tandelilin, MBA, Ph.D
2026 | Disertasi | S3 Manajemen
Disertasi ini terdiri dari enam esai yang saling terkait yang secara
kolektif meneliti peran perempuan di dewan direksi (WOB) dalam membentuk tata
kelola keberlanjutan di industri perbankan global. Ini menyelidiki dua hasil
tata kelola utama—kinerja keberlanjutan dan perilaku ESG-washing—dan
mengeksplorasi bagaimana lingkungan kontekstual dan institusional memoderasi
hubungan ini. Menggunakan panel tidak seimbang dari 767 bank yang terdaftar
secara publik di 67 negara dari tahun 2011-2023, disertasi ini mengintegrasikan
perspektif multi-teoretis, termasuk teori peran sosial, teori agensi, teori
ketergantungan sumber daya, teori institusional, dan teori massa kritis.
Bab I menganalisis apakah WOB meningkatkan kinerja keberlanjutan dan bagaimana
budaya nasional memoderasi hubungan ini. Temuan menunjukkan bahwa WOB secara
signifikan meningkatkan kinerja keberlanjutan, terutama setelah mencapai ambang
massa kritis. Dampak positifnya lebih kuat di lingkungan budaya yang ditandai
oleh kolektivisme, feminitas, penghindaran ketidakpastian yang rendah,
orientasi jangka panjang, dan pengekangan budaya. Bab II mengkaji peran
moderasi kualitas institusi terhadap hubungan antara WOB dan kinerja
keberlanjutan. Hasil menunjukkan bahwa kualitas institusi memperkuat efek
positif WOB dengan memperkuat sistem tata kelola eksternal, sehingga
meningkatkan kredibilitas inisiatif keberlanjutan dan mengurangi kepatuhan
simbolis.
Bab III memperluas analisis dengan mengevaluasi apakah keragaman budaya dewan
memperkuat keberlanjutan, meningkatkan efek WOB. Bukti menunjukkan bahwa
keberagaman budaya dewan secara independen meningkatkan hasil keberlanjutan dan
memperkuat pengaruh direktur wanita, terutama di masyarakat yang inklusif
secara budaya dan berorientasi masa depan. Bab IV mengalihkan fokus dari hasil
keberlanjutan ke praktik pengungkapan yang tidak etis, menyelidiki apakah WOB
mengurangi ESG washing. Hasilnya menunjukkan bahwa WOB secara konsisten
mencegah greenwashing, social washing, dan governance washing, mencerminkan
orientasi etika mereka yang lebih kuat, kekhawatiran terhadap transparansi, dan
pengawasan risiko.
Bab V selanjutnya meneliti bagaimana kualitas institusi memoderasi hubungan
WOB-ESG-washing. Temuan menunjukkan bahwa lingkungan kelembagaan yang lebih
kuat tidak hanya mengurangi pencucian ESG secara langsung tetapi juga
meningkatkan kemampuan direktur wanita untuk membatasi pelaporan keberlanjutan
yang menipu, menunjukkan sifat komplementer dari mekanisme tata kelola internal
dan eksternal. Bab VI mengintegrasikan dimensi kontroversi ESG, menunjukkan
bahwa bank yang menghadapi kontroversi ESG lebih cenderung terlibat dalam
pencucian ESG sebagai strategi perbaikan reputasi. Pentingnya, WOB secara
signifikan melemahkan kecenderungan yang didorong oleh kontroversi ini menuju
ESG washing, menyoroti peran direktur wanita dalam menegakkan tata kelola etis
di bawah kondisi yang merugikan.
Secara keseluruhan, enam esai tersebut secara kolektif menunjukkan bahwa WOB
berfungsi baik sebagai katalis untuk kinerja keberlanjutan yang nyata maupun
sebagai pelindung terhadap praktik keberlanjutan yang tidak etis. Dengan
mengintegrasikan konteks lintas negara, dimensi budaya, faktor institusional,
dan keragaman tata kelola, disertasi ini memberikan wawasan baru yang bersifat
teoretis, empiris, dan relevan kebijakan tentang bagaimana keragaman gender
memperkuat tata kelola keberlanjutan di sektor perbankan global.
This dissertation comprises of six interrelated essays that collectively
examine the role of women on boards (WOB) in shaping sustainability governance
within the global banking industry. It investigates two major governance
outcomes—sustainability performance and ESG-washing behavior— and explores how
contextual and institutional environments moderate these relationship. Using an
unbalanced penl of 767 publicly listed banks across 67 countries from
2011-2023, the dissertation integrates multi-theoretical perspectives,
including social role theory, agency theory, resource depedence theory,
institutional theory and critical mass theory.
Chapter I analyses whether WOB enhance sustainability performance and
how national culture moderates this relationship. Findings show that WOB
significantly improve sustainability performance, particularly after reaching a
critical-mass threshold. The positive impact is stronger in cultural
environments characterized by collectivism, femininity, low uncertainty
avoidance, long-term orientation, and cultural restraint. Chapter II examines
the moderating role of institutional qualitity on the WOB-sustainability
performance nexus. Results indicate
that institutional quality amplifies the
positive effect of WOB by strengthening external governance systems, thereby improving
the credibility of sustaianability initiatives and reducing symbolic
complience.
Chapter III extends the analysis by evaluating whether board cultural
diversity reinforces the sustainability, enhancing effects of WOB. Evidence
shows that board cultural diversity indepedently improves sustainability
outcomes and strengthen women directors` influence, particularly in culturally
inclusive, future-oriented societies. Chapter IV shifts the focus from
sustainability outcomes to unethical disclosure practices, investigating
whether WOB mitigate ESG washing. The results demonstate that WOB consistently
discourage greenwashing, social washing, and governance washing, reflecting
their stronger ethical orientation, transparency concerns, and risk oversight.
Chapter V further examines how institutional quality moderates the
WOB-ESG-washing relationship. The findings reveal that stronger institutional
environments not only reduce ESG washing directly but also enhance the ability
of women directors to limit deceptive sustainability reporting, demonstrating
the complementary nature of internal and external governance mechanisms. Chapter
VI integrates the dimension of ESG controversies, showing that banks facing ESG
controversies are more likely to engage in ESG washing as a reputational repair
strategy. Importantly, WOB significantly weaken this controversy-driven
tendency toward ESG washing, highlighting the role of women directors in
upholding ethical governance under adverse contitions.
Overall, the six essays collectively demonstrate that WOB function both as catalysts for genuine sustainability performance and as safeguards against unethical sustainability practices. By integrating cross-country contexts, cultural dimensions, institutional factors, and governance diversity, this dissertation contributes new theoretical, empirical, and policy-relevants insights into how gender diversity strengthens sustainability governance in the global banking sector
Kata Kunci : Women on boards, sustainability performance, ESG washing, national culture, institutional quality, board cultural diversity, ESG controversies, banking sector