ESTIMASI POTENSI VOLUME KAYU DARI HUTAN RAKYAT DENGAN PENDEKATAN FOTO UDARA DAN PERANANNYA TERHADAP PENDAPATAN PETANI (Studi kasus di Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantu/, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)
Kris Hirjianto, Ir. Sahid, M.Si
2003 | Skripsi | S1 KEHUTANANSebagian besar penduduk Indonesia adalah petani yang umumnya dengan tanah garapan sempit. Bertambahnya jumlah penduduk akan meningkatkan tekanan terhadap lahan pertanian yang ada. Didorong oleh pemanfaatan lahan secara optimal clan kebutuhan bahan baku kayu yang cukup besar, memberikan peluang bagi pengembangan hutan rakyat yang sampai saat ini pengelolaannya masih belum baik. Pemanfaatan foto udara dalam pengelolaan hutan, diharapkan juga dapat memberikan and.ii dalam pengembangan hutan rakyat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tafsiran potensi kayu dari hutan rakyat di daerah penelitian, peranannya terhadap pendapatan petani serta bagaimana mekanisme pemasaran kayunya. Diharapkan hasil penelitian ini bisa menjadi acuan bagi pengembangan hutan rakyat lebih lanjut. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode penelitian dskriptif studi kasus, dengan pengambilan sampel secara random setelah dilakukan stratifikasi (Stratified Random Sampling). Data-data primer dikumpulkan dengan cara pengukuran langsung di lapangan maupun dengan wawancara. Sedangkan data-data primer diperoleh dari catatan yang sudah ada. Analisis potensi tegakan hutan rakyat berdasarkan pada basil perhitungan volume kayu per ha, analisis peranan hutan rakyat berdasarkan prosentase pendapatan petani dari hasil usaha hutan rakyat terhadap pendapatan total petani per tahun, sedangkan analisis mekanisme pemasran kayu dari hutan rakyat berdasarkan tinjauan terhadap alur peredaran kayu dari hutan rakyat yang ada. Hasil penelitian menunjukkan tafsiran potensi kayu dari hutan rakyat di Kecamatan Pajangan sebesar 54,8 m3 /ha dengan jumlah pohon sebanyak 452 pohon/ha. Peranan hutan rakyat dalam hal ini dari hasil kayu, diperkirakan sebesar Rp 676.106,00 per petani/tahun atau sebesar 21,43 % dari total pendapatan yang mereka peroleh setiap tahun. Petani pada umumnya menjual kayu dalam bentuk pohon masih berdiri. Mereka masih bergantung pada jasa tengkulak dalam pemasaran kayunya. Pemerintah diharapkan lebih banyak berperan dalam pengelolaan hutan rakyat ini, sehingga usaha hutan rakyat ini mampu berperan lebih dalam peningkatan kesejahteraan petani.
Kata Kunci : hutan rakyat, potensi, peranan, pemasaran