Laporkan Masalah

Dinamika Komunikasi Pembangunan Digital (Studi Pengembangan Sistem Ekonomi Kreatif Digital Berbasis Budaya di Kota Banda Aceh)

Taufik, Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.IP., M.Si.

2026 | Disertasi | S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh transformasi teknologi informasi dan komunikasi yang mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif digital, sekaligus menghadirkan tantangan dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya lokal. Kota Banda Aceh memiliki infrastruktur digital yang relatif memadai serta kekayaan budaya dan religius yang kuat, namun pengembangan ekonomi kreatif digitalnya belum sepenuhnya terbangun sebagai sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan berbasis budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisisi dinamika komunikasi pembangunan dalam pengembangan ekonomi kreatif digital di Kota Banda Aceh, serta menganalisis pengembangan sistem ekonomi kreatif digital berbasis budaya di Kota Banda Aceh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan 22 informan kunci yang terdiri atas pelaku ekonomi kreatif, pemerintah, dan akademisi, serta didukung oleh observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif digital berbasis budaya di Kota Banda Aceh merupakan proses komunikatif yang bersifat interaktif, non-linear, dan kontekstual. Komunikasi pembangunan berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, dan juga sebagai mekanisme negosiasi makna antara teknologi digital, ekspresi budaya lokal, dan nilai-nilai religius. Sistem ekonomi kreatif digital berkembang melalui keterhubungan berbagai subsistem sosial, seperti pemerintah, komunitas kreatif, institusi pendidikan, dan pasar digital, yang saling berinteraksi dalam ruang digital. Penelitian ini menemukan bahwa keberlanjutan sistem ekonomi kreatif digital di Banda Aceh sangat ditentukan oleh kemampuan aktor-aktor pembangunan dalam mengintegrasikan inovasi digital dengan nilai budaya dan religius secara adaptif. Disertasi ini mengajukan model konseptual Digital Religious Hybrid yang menjelaskan hibridisasi antara teknologi digital, budaya lokal, dan religiusitas dalam pengembangan ekonomi kreatif yang berdaya saing dan berkelanjutan.

This study is motivated by the transformation of information and communication technologies that has driven the growth of the digital creative economy while simultaneously presenting challenges to the sustainability of local cultural identity. Banda Aceh possesses relatively adequate digital infrastructure as well as strong cultural and religious resources; however, the development of its digital creative economy has not yet been fully established as an integrated and sustainable culture-based system. The objectives of this study are to analyze the dynamics of development communication in the development of the digital creative economy in Banda Aceh and to examine the development of a culture-based digital creative economy system in the city. This research adopts a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews with 22 key informants comprising digital creative economy actors, government officials, and academics, and were supported by field observations and document analysis. The findings indicate that the development of a culture-based digital creative economy in Banda Aceh constitutes a communicative process that is interactive, non-linear, and contextual. Development communication functions not only as a means of information dissemination but also as a mechanism for negotiating meaning between digital technology, local cultural expressions, and religious values. The digital creative economy system evolves through the interconnectedness of various social subsystems, including government institutions, creative communities, educational institutions, and digital markets, which interact with one another within digital spaces. The study finds that the sustainability of the digital creative economy system in Banda Aceh is largely determined by the capacity of development actors to adaptively integrate digital innovation with cultural and religious values. This dissertation proposes a conceptual model termed the “Digital Religious Hybrid”, which explains the hybridization of digital technology, local culture, and religiosity in the development of a competitive and sustainable creative economy.

Kata Kunci : Budaya, digital religious hybrid, ekonomi kreatif digital, komunikasi pembangunan digital, sistem kreatif, sistem sosial

  1. S3-2026-437789-abstract.pdf  
  2. S3-2026-437789-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-437789-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-437789-title.pdf