Meramu Cultural Empathy Di Kota Yogyakarta: Integrasi Karya Concerto Kidung Pamuji
Titisari Teresa Rahayu, Dr. Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang, M.A.; Dr. Royke Boby Koapaha, M.Sn.
2026 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Masih terdapat ketidakharmonisan
di antara masyarakat multikultural. Seni memiliki potensi untuk meramu
keharmonisan, termasuk di dalamnya seni musik. Keharmonisan dapat didekati
dengan mengupayakan sebuah cultural empathy. Keraton Yogyakarta
Hadiningrat melalui kelompok musik Yogyakarta Royal Orchestra (YRO)
menjadi wadah dalam mempertunjukkan Karya Concerto Kidung Pamuji yang
meramu budaya Jawa dan Barat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasikan potensi dari Karya Concerto Kidung Pamuji kaitannya
dengan cultural empathy (Pedersen, 2008). Dalam proses menuju cultural
empathy, penelitian ini juga mengkaji bentuk arts integration
(Goldberg, 2017) subjek penelitian (solois biola, conductor, dan
komposer). Temuan dari penelitian ini adalah elemen kunci pemantik cultural
empathy dan bentuk arts integration yang dialami oleh solois biola, conductor,
dan komposer Karya Concerto Kidung Pamuji.
There remains a lack of harmony
within multicultural societies. The arts hold the potential to cultivate
harmony, including the art of music. Harmony may be approached through the
development of cultural empathy. The Yogyakarta Hadiningrat Palace, through the
music ensemble Yogyakarta Royal Orchestra (YRO), serves as a platform for
presenting the musical composition Concerto Kidung Pamuji, which integrates
different cultures (Javanese and Western). This study aims to identify the
potential of the musical composition Concerto Kidung Pamuji in relation to
cultural empathy (Pedersen, 2008). In addition, this research also elaborates
on the forms of arts integration (Goldberg, 2017) experienced by each research
subject (violin soloist, conductor, and composer). The findings of this study
reveal the key elements that trigger cultural empathy and the forms of arts
integration experienced by the violin soloist, conductor, and composer through
their collaborative process with the work Concerto Kidung Pamuji.
Kata Kunci : Concerto Kidung Pamuji, Cultural Empathy, Integrasi Musik, Yogyakarta Royal Orchestra (YRO)