Laporkan Masalah

Adopsi Robot Penasihat Keuangan: Peran Kepercayaan dalam Mengatasi Hambatan

Gracia Alya Quina Akhmad, Dr. Sahid Susilo Nugroho, M.Sc.

2026 | Tesis | S2 SAINS MANAJEMEN

ecerdasan buatan telah menjadi komponen utama dalam sektor teknologi keuangan, khususnya dalam pengembangan robot penasihat keuangan. Meskipun manfaatnya telah terbukti, adopsinya di negara berkembang seperti Indonesia masih tergolong lambat, sebagian besar disebabkan oleh adanya resistensi dari pengguna potensial. Penelitian ini mengintegrasikan Teori Resistensi Inovasi dan Teori Transfer Kepercayaan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang menghambat adopsi dan penggunaan berkelanjutan robot penasihat keuangan di Indonesia. Teori Resistensi Inovasi mengkaji bagaimana hambatan fungsional, seperti penggunaan, nilai, dan risiko, memengaruhi resistensi pengguna terhadap robot penasihat keuangan. Sementara itu, Teori Transfer Kepercayaan menyelidiki bagaimana kepercayaan, yang ditransfer dari pengalaman pengguna sebelumnya dengan layanan keuangan konvensional, memoderasi hubungan antara hambatan-hambatan tersebut dengan niat pengguna untuk menggunakan kembali. Integrasi ini memberikan sudut pandang baru dalam memahami perilaku resistensi pasca-adopsi. Sampel penelitian ini terdiri dari 250 pengguna platform layanan investasi, dengan data dianalisis menggunakan Partial-Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan penggunaan, nilai, dan risiko secara signifikan menghalangi niat pengguna untuk menggunakan kembali robot penasihat keuangan. Namun, kepercayaan tidak memoderasi hubungan-hubungan ini. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur dengan menawarkan kerangka kerja yang mengintegrasikan hambatan resistensi inovasi, kepercayaan, dan niat untuk menggunakan kembali. Selain itu, penelitian ini juga memberikan implikasi manajerial bagi platform investasi teknologi keuangan yang bertujuan untuk mengingkatkan kepercayaan pengguna dan mengurangi resistensi terhadap adopsi robot penasihat keuangan di Indonesia.

Artificial Intelligence has become a key component in the financial technology sector, particularly in the development of robo-advisors. Although its benefits have been proven, its adoption in developing countries like Indonesia remains slow, largely due to resistance from potential users. This study integrates Innovation Resistance Theory and Trust Transfer Theory to explore the factors hindering the adoption and continued use of robo-advisors in Indonesia. Innovation Resistance Theory examines how functional barriers, such as usage, value, and risk, affect user resistance to robo-advisors. Meanwhile. Trust Transfer Theory investigates how trust, transferred from users' prior experience with conventional financial services, moderates the relationship between these barriers and users' intention to reuse. This integration offers a new perspective in understanding pors-adopsion resistance behavior. The sample for this study consists of 250 users of investment service platform, with data analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results indicate that usage, value, and risk barriers significantly hinder users' intention to reuse robo-advisors. However, trust does not moderate these relationships. This research contributes to the literature by offering a framework that integrate innovation resistance barriers, trust, and reuse intention. Additionally, it provides managerial implications for fintech investment platforms aiming to increase user trust and reduce resistance to the adoption of robo-advisors in Indonesia.

Kata Kunci : Teknologi Keuangan, Robot Penasihat Keuangan, Resistensi Inovasi, Niat untuk Menggunakan Kembali, Kepercayaan

  1. S2-2026-530781-abstract.pdf  
  2. S2-2026-530781-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-530781-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-530781-title.pdf