Pengembangan Pariwisata Digital Berbasis Masyarakat di Kawasan Perdesaan (Studi Kasus di Kalurahan Pagerharjo, Kepanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo)
Dyota Hayu Mahardhika, Prof. Dr. Suharko, M.Si
2025 | Tesis | S2 Sosiologi
Digitalisasi
pariwisata merupakan sebuah tren yang sedang berkembang pada beberapa dekade
tahun terakhir. Fenomena Fear-of-Missing-Out
on Travel Intention atau perasaan
cemas atau takut tertinggal yang muncul karena melihat orang lain sedang
menikmati liburan yang menarik, terutama melalui media sosial dan Pembatasan
mobilitas sosial saat pandemi COVID-19 secara tidak langsung mempercepat laju
perkembangan digitalisasi pada pariwisata berbasis masyarakat. Letak Kalurahan
Pagerharjo yang berada pada ketinggian 700–1000 MDPL menjadikan kawasan
tersebut sering kali mengalami blind spot
internet, sehingga hal tersebut menjadi tantangan bagi pengelola untuk mengembangkan
pariwisata digital berbasis masyarakat.
Penelitian
ini menggunakan dua konsep utama yaitu digitalisasi pariwisata dan dampak
sosial sebagai pisau analisis dalam melihat bagaimana pengembangan pariwisata
digital memberikan dampak sosial bagi masyarakat. Pada konsep digitalisasi
pariwisata, berfokus pada tiga aspek utama yang meliputi: (1) Visualization (2)
Digitisation and (3) Internetisation. Pada
konsep dampak sosial berfokus pada dampak sosial yang diterima oleh masyarakat
yang tinggal daerah tujuan wisata yang meliputi: (1) Dampak sosial ekonomi dan
(2) Dampak sosial budaya.
Hasil
dari penelitian ini menunjukan bahwa pengembangan
pariwisata digital berbasis masyarakat di Pagerharjo berfokus pada digital marketing dengan
mengkomodifikasi potensi desa yang meliputi: (1) Kebun Teh Nglinggo, (2) Trajumas
Java Coffee, (3) Seni pertunjukan Lengger Tapeng. Pada proses digitalisasi
penulis melihat terdapat 3 tiga tahap yang meliputi: (1) Produksi Visual
Pariwisata dengan melibatkan masyarakat dalam proses produksi konten,
mengkomodifikasi keindahan alam, mengkomodifikasi kebiasaan sehari-hari
masyarakat Pagerharjo, kesenian masa lampau yang melekat hingga saat ini, dan
memanfaatkan aspek ke tokohan yang ada di Pagerharjo. (2)Distribusi Visual
Pariwisata yang dilakukan melalui berbagai platform
sosial media dan web hosting yang dilakukan secara mandiri maupun dilakukan
oleh pihak otoritas seperti pemerintah desa, pemerintah kabupaten hingga pada
tingkat kementrian. (3) Konsumsi Visual Pariwisata melalui pola wisatawan yang
berkunjung ke Pagerharjo yang meliputi rasa penasaran wisatawan terkait
informasi yang di peroleh melalui sosial media, wisatawan secara tidak langsung
melakukan unggahan foto ke sosial media mereka. Berbagai proses digitalisasi
tersebut menjadikan Kalurahan Pagerharjo secara perlahan bergeser menuju industri
pariwisata, sehingga fenomena ini memberikan dampak sosial bagi masyarakat yang
meliputi: (1) Dampak sosial ekonomi yang berupa penggambaran penghasilan
masyarakat dalam sebuah akumulasi, distribusi manfaat pada generasi muda. (2) Dampak
sosial budaya yang berupa pergeseran adat istiadat, pergeseran tren budaya
pekerjaan masyarakat dan distribusi kekuasaan melalui alih fungsi lahan.
Tourism digitalization is a growing
trend in recent decades. The Fear-of-Missing-Out phenomenon on Travel
Intention, or the feeling of anxiety or fear of being left behind that arises
from seeing others enjoying interesting vacations, especially through social
media and social mobility restrictions during the COVID-19 pandemic, indirectly
accelerated the pace of digitalization in community-based tourism. The location
of Pagerharjo village in a hilly area with an altitude of 700-1000 MDPL makes
the area often experience internet blind spots, so thisis a challenge for
managers to develop digitalization in community-based tourism
This study uses two main concepts,
namely tourism digitalization and social impact, as analytical tools in seeing
how digital tourism development has a social impact on society. In the concept
of tourism digitalization, it focuses on three main aspects which include: (1)
Visualization (2) Digitization and (3) Internetization. The concept of social
impact focuses on the social impact received by the community living in tourist
destination areas which include: (1) Socio-economic impact and (2)
Socio-cultural impact.
The results of this study indicate that the development of community-based digital tourism in Pagerharjo focuses on digital marketing by commodifying village potentials which include: (1) Nglinggo Tea Plantation, (2) Trajumas Java Coffeee, (3) Lengger Tapeng performing arts. In the digitalization process, the author sees 3 three stages which include: (1) Production of Tourism Visuals by involving the community in the content production process, commodifying natural beauty, commodifying the daily habits of the Pagerharjo community, past arts that are still present today, and utilizing aspects of existing figures in Pagerharjo. (2) Distribution of Tourism Visuals carried out through various social media platforms and web hosting which are carried out independently or carried out by authorities such as village governments, district governments up to the Ministry level. (3) Visual Consumption of Tourism through the patterns of tourists visiting Pagerharjo which include tourists' curiosity regarding information obtained through social media, tourists indirectly upload photos to their social media. Various digitalization processes have made Pagerharjo village slowly shift towards tourism industrialization, so that this phenomenon has a social impact on the community which includes: (1) Socio-economic impacts in the form of depictions of community income in an accumulation, distribution of benefits to the younger generation. (2) Socio-cultural impacts in the form of shifts in customs, shifts in cultural trends in work and the distribution of power through land conversion.
Kata Kunci : Pariwisata Digital & Pariwisata Berbasis Masyarakat , Digital Tourism & Community-based tourism