EVALUASI JARINGAN JALAN ANGKUTAN DI RPH KLAPANUNGGAL, BKPH BANTARSARI, KPH PEMALANG
HERI NUR AFANDI, Dr. Ir.Nunuk Supriyatno,M.Sc.
2003 | Skripsi | S1 KEHUTANANPembukaan Wilayah Hutan (PWH) berhubungan dengan masalah penyediaan prasarana angkutan yang berupa jalan angkutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan optimalitas jaringan jalan angkutan baik pada PWH untuk tujuan jangka panjang maupun pada PWH untuk tujuan pemungutan hasil hutan di RPH Kiapanunggal, BKPH Bantarsari, KPH Pemalang yang merupakan kelas perusahaan Jati (Tectona grandis ) yang mempunyai relief relatif datar. Riap RPH Kiapanunggal sebesar 3,126 m3/Ha/th. Biaya-biaya yang digunakan adalah biaya pembuatan jalan (Road Construction CostfRCC ), biaya pemeliharaan jalan (Road Maintenance CostfRMC ) dan biaya penyaradan { Skidding CostIRC ). Teknik penyaradan yang digunakan adalah penyaradan dengan menggunakan tenaga manusia (dipikul). Karakteristik jaringan jalan angkutan terdiri dari beberapa parameter yaitu : kerapatan jalan { Road DensityfKD ), jarak antar jalan { Road Spacing!RS), jarak sarad rata-rata teoritis (MSDo), jarak sarad rata-rata terpendek (MSDt)Jarak sarad rata-rata di lapangan (MSD1), persen pembukaan wilayah { ErschliessungsprozentfE% ). Optimalitas jaringan jalan angkutan diketahui berdasarkan nilai kerapatan jalan optimal { Optimum Road Density/ORD) dan jarak antar jalan optimal { Optimum Road SpacingiORS ) dengan memperhatikan potensi hutan, biaya penyaradan kayu serta biaya pembuatan dan pemeliharaan jalan. Nilai ORD dan ORS dihitung dengan menggunakan metode total biaya minimal secara tabelaris. Hasil penelitian untuk karakteristik dan optimalitas jaringan jalan angkutan pada PWH untuk tujuan jangka panjang adalah, RD = 37,9 m/Ha; RS = 263,8 m; MSDo = 65,9 m; MSDt = 108 m; E% = 60,98 %; ORD = 6 m/Ha; ORS = 1.666,7 m. Sedangkan pada PWH untuk tujuan pemungutan hasil hutan adalah, RD = 80,3 m/Ha; RS = 124,5 m; MSDo = 31,1 m; MSDt = 86,7 m; MSD1 - 88,5 m; E% = 44,73 %; ORD = 23 m/Ha; ORS = 434,8 m. Secara umum jaringan jalan yang terdapat di RPH Kiapanunggal jika dibandingkan antara RD aktual dengan ORD, sudah optimal bahkan terdapat kelebihan jalan hanya saja jika dilihat dari E% yang masih kurang dari 65 % (tidak menguntungkan) berarti hanya masalah persebaran (distribusi) jalan yang tidak merata sehingga tidak dapat membuka seluruh areal hutan dengan merata.
Forest opening up is closely related to problems of infrastructure availability in form of haul roads. The study’s objective is to find characteristics and haul road network optimalization, whether for long term forest opening up and forest opening up for forest product extraction at RPH Klapanunggal, BKPH Bantarsari, KPH Pemalang that has a company class of teak (Tectona grandis) which has a relief of plains. Increament at RPH Klapanunggal is 3.126 m3/Ha/year. Costs that were used are road construction cost (RCC), road maintenance cost (RMC) and skidding cost (SC). Skidding techniques used are by human powered (carried aloft). Haul road characteristics consists of several parameters such as : road density (RD), road spacing (RS), theoritical mean skidding distance (MSDo), shortest mean skidding distance (MSDt), field mean skidding distance (MSDi), and percentage of opening up (Erschliessungsprozent/E%). Optimum haul road network is knowned based on the values of optimum road density (ORD) and optimum road spacing (ORS) focused upon forest potential, skidding costs, also road constuction and maintenance costs. ORD and ORS values are calculated using the minimal total cost method using tables. Study shows that the characteristics and optimum haul road network for long term forest opening up as : RD = 37.9 m/Ha; RS = 263.8 m; MSDo = 65.9m; MSDt = 108 m; E% = 60.98 %; ORD = 6 m/Ha; ORS = 1,666.7 m. As for forest opening up for forest product extraction is RD = 80.3 m/Ha; RS = 124.5 m; MSDo = 31.1 m; MSDt = 86.7 m; MSDI = 88.5 m; E% = 44.73 %; ORD = 23 m/Ha; ORS = 434.8 m. Generally the haul road network in RPH klapanunggal if compared between actual RD with ORD, is considered optimum, there is even an abundance of roads if based on E% that is still less than 65 % (not benefitable) meaning that there is only a problem in road distribution resulting in un-even forest opening up
Kata Kunci : Pembukaan Wilayah Hutan (PWH), jaringan jalan angkutan, karakteristik jaringan jalan, optimalitas jaringan jalan, KPH Pemalang.