Dinamika Komunikasi dalam Kajian Perilaku Mendonorkan Mata pada Masyarakat di Desa Manislor Kabupaten Kuningan Jawa Barat
Fajar Hariyanto, Prof. Ir. F Trisakti Haryadi, M.Si., Ph.D; Ratih Ineke Wati, SP., M.Agr., Ph.D
2026 | Disertasi | S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Kebutaan akibat kelainan kornea merupakan tantangan kesehatan global yang meningkatkan urgensi penelitian mengenai donor mata. Namun, kampanye donor mata masih menghadapi kesenjangan antara niat dan tindakan akibat hambatan stigma, keyakinan agama, serta tekanan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika komunikasi dalam perilaku donor mata melalui tiga aspek utama: akurasi informasi, peran aktor komunikasi, dan peranan modal sosial. Kerangka teoretis yang digunakan adalah Teori ABC (Antecedents-Behavior-Consequences) sebagai teori utama, yang didukung oleh Teori Kemungkinan Elaborasi (Elaboration Likelihood Model) dan Teori Struktural Fungsional untuk membedah proses penerimaan informasi serta peran aktor terkait. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus di Desa Manislor, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sebagai wilayah dengan jumlah pendonor mata terbanyak di Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada 17 informan, observasi lapangan, dan analisis dokumen.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) informasi donor mata disebarluaskan melalui kegiatan sosialisasi, pertemuan keagamaan, dan siaran radio lokal, dengan pesan yang akurat dan selaras dengan nilai-nilai budaya dan religiusitas masyarakat. Masyarakat Manislor memproses informasi donor mata dengan menggabungkan penalaran kognitif tentang informasi medis dengan respons emosional dan sosial yang memperkuat proses persuasi. (2) Aktor komunikasi dalam program donasi mata meliputi aktor regulasi, pengelola informasi, mobilisator, dan aktor yang memegang otoritas keputusan mendonorkan mata. Kelompok-kelompok ini bekerja saling bergantung dan mendukung penyebaran informasi donor mata. (3) modal sosial yang mencakup jaringan, pelembagaan Kampung Peduli Kemanusiaan, kepercayaan terhadap pemimpin agama dan daerah, serta nilai-nilai religius dan kemanusiaan memiliki peranan sebagai fondasi lingkungan komunikasi yang mendukung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sinergi antara akurasi informasi, peran aktor, dan kekuatan modal sosial menjadi kunci keberhasilan partisipasi donor mata secara berkelanjutan di Desa Manislor, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Corneal blindness remains a significant global health challenge, intensifying the urgency for research on eye donation. However, eye donation campaigns continue to face an intention-action gap driven by stigma, religious beliefs, and social pressures. This study aims to analyze the communication dynamics of eye donation behavior by examining three primary aspects: information accuracy, the role of communication actors, and the function of social capital. The theoretical framework employs the ABC (Antecedents-Behavior-Consequences) Theory as the grand theory, supported by the Elaboration Likelihood Model and Structural Functional Theory to analyze information processing and the roles communication actors. A qualitative method with a case study approach was conducted in Manislor Village, Kuningan Regency, West Java, identified as the region with the highest number of eye donors in Indonesia. Data were gathered through in-depth interviews with 17 participants, field observations, and document analysis.
The findings indicate that: (1) information regarding eye donation is disseminated through socialization activities, religious gatherings, and local radio broadcasts, utilizing accurate messages aligned with the community's cultural and religious values. The residents of Manislor process this information by integrating cognitive reasoning regarding medical facts with emotional and social responses that strengthen persuasion. (2) Communication actors in the eye donation program include regulators, information managers, mobilizers, and decision-making authorities, all of whom work interdependently to support information dissemination. (3) Social capital comprising networks, the institutionalization of the Kampung Peduli Kemanusiaan (Humanitarian Care Village), trust in local and religious leaders, and humanitarian values, serves as the foundation for a supportive communication environment. This study concludes that the synergy between information accuracy, the strategic roles of actors, and the strength of social capital is the key to successful and sustainable eye donation participation in Manislor Village, Kuningan Regency, West Java.
Kata Kunci : dinamika komunikasi, akurasi informasi, aktor komunikasi, modal sosial, perilaku donor mata.