Perancangan Bangunan Pemerintahan di Ruas Jalan 17 Agustus Kota Manado dengan Fokus pada Fasad dan Pendekatan Implementasi Arsitektur Tradisional Suku Minahasa
Jefferson Musa Gagola, Mario Lodeweik Lionar, S.T., M.Sc., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur
Arsitektur bangunan pemerintahan memiliki peran strategis sebagai sarana aktivitas administratif sekaligus representasi identitas budaya dan citra institusi publik. Di Kota Manado, penerapan karakteristik arsitektur tradisional Minahasa (Walewangko) pada fasad bangunan pemerintahan cenderung menurun dan tergantikan oleh pendekatan arsitektur kontemporer yang bersifat generik. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara nilai budaya lokal dan ekspresi visual bangunan pemerintahan, sehingga diperlukan pendekatan perancangan yang mampu menjembatani tradisi dan tuntutan arsitektur kontemporer. Metode penelitian pada tahap pra desain menggunakan pendekatan mixed methods melalui analisis visual komparatif fasad bangunan pemerintahan di Kota Manado, studi literatur, serta pendekatan tipomorfologi untuk mengidentifikasi karakteristik, hirarki elemen, dan transformasi arsitektur Walewangko. Analisis ini menjadi dasar perumusan parameter konseptual perancangan fasad bangunan pemerintahan. Pada tahap pasca desain, evaluasi hasil rancangan dilakukan dengan strategi mixed methods menggunakan kuesioner tertutup dan terbuka kepada responden terpilih yang melibatkan ahli arsitektur, tokoh adat Minahasa, dan pemangku kebijakan pemerintahan. Evaluasi difokuskan pada enam skenario konfigurasi massa bangunan serta unsur fasad yang meliputi kepala, badan, dan kaki bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas arsitektur Walewangko paling kuat tercermin pada elemen atap sebagai pembentuk karakter visual utama, didukung oleh ritme badan bangunan dan relasi kaki bangunan dengan tanah. Konfigurasi massa memanjang dengan dua hingga tiga lantai, melalui pendekatan regionalisme pada tingkat vernakularisme interpretatif, dinilai paling efektif dalam merepresentasikan nilai budaya Minahasa secara kontemporer. Rancangan ini berpotensi menjadi model pengembangan bangunan pemerintahan yang kontekstual dan beridentitas lokal.
Kata kunci: fasad bangunan pemerintahan, arsitektur kontemporer, Walewangko, arsitektur Minahasa.
Government architecture plays a strategic role not only as a container for administrative activities but also as a representation of cultural identity and the public image of institutions. In Manado City, the application of traditional Minahasa architectural characteristics (Walewangko) on the façades of government buildings has gradually declined and been replaced by a generic contemporary architectural approach. This condition has created a gap between local cultural values and the visual expression of government buildings, indicating the need for a design approach capable of mediating tradition and the demands of contemporary architecture. This study employs a mixed-methods approach in the pre-design stage, consisting of comparative visual analysis of government building façades in Manado City, literature review, and a typomorphological approach to identify architectural characteristics, element hierarchies, and the transformation of Walewangko architecture. The analysis forms the basis for establishing conceptual parameters for the design of government building façades. In the post-design stage, the proposed design is evaluated using a mixed methods strategy through closed- and open-ended questionnaires administered to selected respondents, including architectural experts, Minahasa traditional leaders, and government policymakers. The evaluation focuses on six building mass configuration scenarios and façade elements comprising the head, body, and base of the building. The findings indicate that the identity of Walewangko architecture is most strongly expressed through the roof element as the primary visual character, supported by the rhythm of the building body and the relationship between the base and the ground. An elongated mass configuration of two to three storeys, employing a regionalism approach at the level of interpretative vernacularism, is considered the most effective in representing Minahasa cultural values within a contemporary architectural expression. This design has the potential to serve as a contextual and locally grounded model for the development of government buildings.
Keywords: government building façade, contemporary architecture, Walewangko, Minahasa architecture.
Kata Kunci : Fasad bangunan pemerintahan, arsitektur kontemporer, Walewangko, arsitektur Minahasa.