SENSE OF PLACE SUMBU KOSMOLOGIS SEBAGAI KONSEP PENGEMBANGAN RUANG WISATA KOTA YOGYAKARTA
Johanes Advento Kuncoro Adi, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana wisatawan memaknai sense of place pada kawasan Sumbu Kosmologis Yogyakarta serta implikasinya terhadap pengembangan ruang wisata kota. Sumbu Kosmologis sebagai ruang budaya yang sarat nilai filosofis tidak hanya berfungsi sebagai koridor fisik yang menghubungkan Tugu Pal Putih, Malioboro, Kraton Yogyakarta, hingga Panggung Krapyak, tetapi juga sebagai ruang pengalaman yang memungkinkan terbentuknya pemaknaan personal dan kolektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan memadukan rasionalisme dan naturalisme, di mana teori sense of place dan dimensi place attachment digunakan sebagai kerangka analitis tanpa diposisikan sebagai kategori hasil yang kaku. Data diperoleh melalui wawancara terhadap wisatawan yang kemudian direduksi dan dikurasi berdasarkan enam indikator analisis untuk mengidentifikasi tema-tema pemaknaan yang kuat dan relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sense of place di kawasan Sumbu Kosmologis dimaknai wisatawan terutama melalui pengalaman kepariwisataan, seperti aktivitas berjalan, menikmati suasana, mengamati simbol ruang, serta interaksi sosial yang terjadi selama kunjungan. Pemaknaan yang terbentuk cenderung berangkat dari pengalaman empiris dan atmosfer ruang, bukan dari pemahaman mendalam terhadap nilai filosofis eksisting pada masing-masing elemen kawasan. Dalam prosesnya, ruang tidak hanya dipersepsikan sebagai latar fisik, tetapi mengalami transformasi menjadi tempat melalui keterlibatan emosional, persepsi visual, dan refleksi personal, sejalan dengan pemikiran Yi-Fu Tuan (1977) bahwa ruang menjadi tempat ketika diberi makna melalui pengalaman. Penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan ruang wisata di Sumbu Kosmologis tidak dapat semata berorientasi pada penambahan atraksi, tetapi perlu mempertimbangkan bagaimana pengalaman ruang dapat dipertahankan dan diarahkan agar memungkinkan terbentuknya keutuhan relasi antara individu dan ruang. Dengan demikian, sense of place dapat dipahami sebagai landasan konseptual dalam merumuskan arah pengembangan ruang wisata Kota Yogyakarta yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.
This study aims to understand how tourists interpret the sense of place within the Yogyakarta Cosmological Axis and its implications for the development of urban tourism spaces. The Cosmological Axis, as a cultural space rich in philosophical values, does not merely function as a physical corridor connecting Tugu Pal Putih, Malioboro, the Yogyakarta Palace (Kraton), and Panggung Krapyak, but also as an experiential space that enables the formation of personal and collective meanings. This research employs a qualitative approach by combining rationalism and naturalism, in which the theory of sense of place and the dimensions of place attachment are used as an analytical framework without being positioned as rigid result categories. Data were obtained through interviews with tourists and were subsequently reduced and curated based on six analytical indicators in order to identify strong and relevant themes of meaning-making. The findings show that the sense of place within the Cosmological Axis is primarily interpreted by tourists through tourism-related experiences, such as walking through the area, enjoying the atmosphere, observing spatial symbols, and engaging in social interactions during their visit. The meanings formed tend to emerge from empirical experiences and the spatial atmosphere rather than from a deep understanding of the philosophical values inherent in each element of the area. In this process, space is not only perceived as a physical setting but gradually transforms into place through emotional engagement, visual perception, and personal reflection, in line with Yi-Fu Tuan’s (1977) argument that space becomes place when it is endowed with meaning through experience. This study emphasizes that the development of tourism spaces along the Cosmological Axis should not merely focus on adding attractions, but must also consider how spatial experiences can be maintained and directed to allow the formation of a holistic relationship between individuals and space. Thus, sense of place can be understood as a conceptual foundation for formulating a more contextual and sustainable direction for the development of tourism spaces in Yogyakarta.
Kata Kunci : Sumbu Kosmologis Yogyakarta, sense of place, pariwisata, keterikatan emosional, spiritualitas ruang