Puisi Sanggahan Ibnu Syuhaid Atas Puisi Penyair Timur Dalam Risalah At-Tawabi' wa Az-Zawabi': Analisis Intertekstual
NUR HIDAYAH, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum. ; Dr. Hindun., M.Hum.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Penelitian ini mengkaji puisi-puisi Ibnu Syuhaid yang disejajarkan dengan puisi-puisi penyair Timur pra-Islam dan Abbasi dalam Risalah At-Tawabi’ wa Az-Zawabi’. Kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui latar belakang penyejajaran puisi, cara Ibnu Syuhaid dalam menyejajarkan dan menganalisis alasan di balik penyejajaran tersebut. Penelitian ini memanfaatkan teori intertekstual Michael Riffaterre dengan menggunakan metode penelitian sastra banding yang membaca puisi transformasi dan hipogramnya secara bersama-sama untuk kemudian menganalisis aspek-aspek yang mempertemukan keduanya, baik bentuk maupun isi puisi. Dari penelitian ini ditemukan bahwa penyejajaran puisi-puisi dalam Risalah At-Tawabi’ wa Az-Zawabi’ ini merupakan respon Ibnu Syuhaid terhadap latar sosial dan politik Andalusia pada periode peralihan, dari periode kejayaan Daulah Bani Umayyah hingga pecahnya kekuasaan menjadi kerajaan-kerajaan kecil Muluk At-Tawaif. Perubahan situasi sosial dan politik Andalusia ini secara langsung meruntuhkan status sosial Ibnu Syuhaid dari yang semula adalah bagian dari elit istana pada masa kejayaan Bani Amir berubah menjadi rakyat biasa. Kehilangan status ini mendorong Ibnu Syuhaid untuk mencari pengakuan, legitimasi sekaligus patronase baru. Pada tingkat yang lebih luas, masyarakat Andalusia dengan inferioritas mereka atas dominasi sastra Arab Timur menciptakan semangat perlawanan dan menuntut kesetaraan bagi sastra Andalusia. Risalah At-Tawabi’ wa Az-Zawabi’ menjadi teks yang digunakan untuk mewujudkan tujuan pribadi Ibnu Syuhaid sekaligus menjadi teks perlawanan yang menyejajarkan puisinya dengan puisi-puisi penyair Timur terkemuka yang dikemas dalam sebuah perjalanan imajiner ke dunia jin. Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan jin pendamping para penyair Timur. Setiap pertemuan terjadi dengan pola yang terstruktur, yang diawali dengan dialog penuh penghormatan dan ditutup dengan pemberian ijazah yang secara simbolis menjadi legitimasi dan pengakuan atas kemampuan sastra Ibnu Syuhaid yang menyetarakannya dengan para penyair besar. Puisi-puisi transformasi Ibnu Syuhaid disusun dengan mempertemukan antara tradisi puisi klasik ‘Amud Syi’r dan inovasi. Kebaruan dalam puisi Ibnu Syuhaid terletak pada bentuk puisi yaitu pembukaan puisi dengan bait mastur dan pada isi puisi yaitu konsep tema yang diusung, konteks kelokalan Andalusia dan kemampuannya dalam berdialog dengan puisi-puisi tersebut.
This study examines the poems of Ibnu Syuhaid, comparing them with those of pre-Islamic and Abbasi poets as presented in Risalah At-Tawabi’ wa Az-Zawabi’. The aim is to determine the background and method of comparison as well as to analyze the reasons behind it. The research employs Michael Riffaterre's intertextual theory and a comparative literary approach, analyzing the transformed poems alongside their hypograms to identify unifying aspects in both form and content. The study finds that the juxtaposition of poems in Risalah At-Tawabi’ wa Az-Zawabi’ reflects Ibnu Syuhaid's response to the shifting social and political landscape of Andalusia during the transition from the Umayyad Caliphate's golden age to its fragmentation into smaller kingdoms known as Muluk At-Tawaif. These changes undermined Ibnu Syuhaid's social standing—once a member of the palace elite during the Bani Amir's prominence, he became an ordinary citizen. This loss of status motivated him to seek recognition, legitimacy, and new patronage. More broadly, Andalusian society, feeling inferior to the dominance of Eastern Arabic literature, developed a spirit of resistance and a desire for equality in literary achievement. Risalah At-Tawabi’ wa Az-Zawabi’ thus served both Ibnu Syuhaid's personal ambitions and the collective aspiration for Andalusian literary recognition, framing his poetry as equal to that of renowned Eastern poets within the context of an imaginary journey to the world of jinn. During this journey, Ibnu Syuhaid encounters the jinn companions of Eastern poets, with each meeting following a structured pattern: it begins with respectful dialogue and concludes with the granting of an ijazah, symbolically legitimizing Ibnu Syuhaid’s literary skills and placing him on par with the great poets. His transformative poems blend the classical tradition of ‘amud syi'r with innovative elements. The originality in Ibnu Syuhaid’s poetry is evident in the structural use of the mastur verse as an opening, the thematic development, the integration of Andalusian local context, and his creative engagement in dialogue with earlier poems.
Kata Kunci : Risalah At-Tawabi’ wa Az-Zawabi’, Andalusia, Riffaterre, Puisi Arab, Penyejajaran / Risalah At-Tawabi’ wa Az-Zawabi’, Andalusia, Riffaterre, Arabic Poetry, Juxtaposition