Laporkan Masalah

Pencegahan Diabetes Melitus (DM) pada Remaja yang Memiliki Faktor Risiko DM Tipe 2 (DMT2) pada Konteks Budaya Hierarkis dan Kolektivistik: Studi Multimetode dengan Melibatkan Orang Tua yang Telah Menderita DMT2 dan Teman Sebaya Remaja

Anika Candrasari, Prof. dr. Mora Claramita, M.H.P.E., Ph.D., Sp. K.K.L.P., Sub-C.O.P.C., dr. Vina Yanti Susanti, Sp.P.D.-K.E.M.D., M.Sc., Ph.D., dr. Oryzati Hilman, M.Sc., C.M.F.M., Ph.D., Sp. D.L.P., Sp. K.K.L.P., Sub

2026 | Disertasi | S3 Kedokteran Umum

Latar Belakang: Obesitas merupakan faktor risiko utama DMT2 yang dapat dimodifikasi. Obesitas remaja Indonesia meningkat seiring dengan naiknya prevalensi diabetes Indonesia. Studi fenomenologis mengeksplorasi remaja obesitas sebagai kelompok risiko tinggi dalam konteks budaya kolektivis Indonesia. Serta scoping review memetakan dan menyintesis bukti hubungan keterlibatan orang tua dan teman sebaya dengan obesitas remaja. Hasil yang diperoleh untuk merancang model berbasis budaya yang didukung keluarga dan teman sebaya dalam pencegahan DMT2. Metode: Studi fenomenologi dilaksanakan di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia (Maret 2021–April 2022), merekrut 11 remaja, 11 orang tua, dan 9 teman sebaya dari 4 klinik menggunakan sampling purposif hingga tercapai kejenuhan. Data dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Untuk scoping review mengadopsi kriteria PRISMA 2020 dari PubMed, Cochrane Library, EMBASE, dan SAGE Publishing, antara Januari 2011 dan Agustus 2021. Studi ini melibatkan remaja obesitas yang melaporkan hubungan antara keterlibatan orang tua dan/atau teman sebaya dengan hasil metabolik. Hasil: Mayoritas remaja lebih memperhatikan penampilan dibandingkan dengan kesehatan mereka. Temuan juga menunjukkan bahwa semua kelompok memiliki kesadaran yang terbatas terhadap risiko DMT2. Teman sebaya memberikan dukungan emosional dan dorongan untuk perilaku yang lebih sehat, sementara orang tua mengawasi pola makan dan mendorong aktivitas fisik. Tinjauan scoping, dari 1.476 studi, 38 studi memenuhi kriteria inklusi. Temuan menunjukkan korelasi yang konsisten antara keterlibatan orang tua dengan kebiasaan makan dan aktivitas remaja yang lebih sehat, kontrol glikemik yang lebih baik, dan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih rendah. Sebaliknya, bukti tentang keterlibatan teman sebaya terbatas, dengan hubungan yang lebih lemah dan kurang konsisten. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa ke depannya pendidikan kesehatan sebaiknya berorientasi pada kekhawatiran remaja terkait penampilan untuk meningkatkan keterlibatan mereka. Perlakuan yang sesuai secara budaya yang melibatkan teman sebaya dan orang tua mereka sangat penting. Keluarga merupakan target yang menjanjikan untuk penelitian longitudinal dan intervensional di masa depan yang bertujuan mencegah obesitas dan DMT2 pada populasi ini.


Background: Obesity is a major modifiable risk factor for T2DM. The increasing rate of youth obesity in Indonesia is coupled with the prevalence of diabetes worldwide. This phenomenological study explored adolescent obesity as a high-risk group within Indonesia's collectivistic cultural context. A scoping review to map and synthesize the existing evidence on the associations between parental and peer engagement and adolescent obesity. The results obtained inform the design of culturally grounded, family- and peer-supported preventions for T2DM. Methods: This phenomenological study was conducted in Surakarta, Central Java, Indonesia (March 2021–April 2022), and recruited 11 adolescents, 11 parents, and 9 peers from four clinics using purposive sampling until data saturation. Data were analyzed using Colaizzi's method. The scoping review adopted PRISMA 2020 criteria from PubMed, Cochrane Library, EMBASE, and SAGE Publishing, between January 2011 and August 2021. We included studies involving adolescents obesity that reported on associations between parental and/or peer engagement and metabolic outcomes. Results: The majority of adolescents reported being more concerned about their appearance than about their health. The findings also indicated that all groups had limited awareness of T2DM risks. Peers offered emotional support and encouragement for healthier behaviors, while parents supervised diet and promoted physical exercise. From the scoping review, of 1,476 identified records, 38 studies met the inclusion criteria. The findings demonstrated consistent correlations between parental engagement and adolescent outcomes, including healthier eating and activity habits, improved glycemic control, and lower BMI. In contrast, evidence for peer engagement was limited, with weaker, less consistent associations. Conclusions: The findings suggest that future health education should initially address adolescents' appearance-related concerns to enhance engagement. Culturally appropriate treatments that involve their peers and parents are crucial. The family-centered variables are promising targets for future longitudinal and interventional research aimed at preventing obesity and T2DM in this population.

Kata Kunci : obesitas remaja, DMT2, orang tua, teman sebaya/ adolescent obesity, T2DM, parent, peer

  1. S3-2026-450211-abstract.pdf  
  2. S3-2026-450211-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-450211-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-450211-title.pdf