Instalogic-Fair: Strategi Art Jakarta dari Perjuangan Memenangkan Ranah menuju Produksi Ranah Pasar Seni Rupa (Baru)
Elok Santi Jesica, Prof. Dr. Heru Nugroho ; Dr. Phil. Oki Rahadianto Sutopo
2026 | Disertasi | S3 Sosiologi
Penelitian ini mengkaji proses mediatisasi yang dijalani Art Jakarta (2023) sebagai institusi dalam memenangkan ranah pasar seni rupa. Fokus penelitian ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan bagaimana strategi Art Jakarta memenangkan pasar dalam ranah seni rupa yang termediatisasi melalui Instagram @artjakarta dan mengapa strategi tersebut dilakukan. Untuk menelusuri hal tersebut, penelitian ini menggunakan kerangka teori pasar dari Karl Polanyi (1957), ranah produksi kultural dari Pierre Bourdieu (1993), dan mediatisasi dalam tradisi institusional dari Stig Hjarvard (2008, 2013). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi multisitus yang mengombinasikan pengamatan pada situs offline-online serta analisis tematik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Art Jakarta (2023) mengalami transformasi dari art fair menjadi instalogic-fair. Melalui instalogic-fair, Art Jakarta menjadi institusi pasar seni yang tidak lagi sekadar fokus pada perdagangan karya seni, namun menggunakan karya seni sebagai token untuk memastikan pasar dapat bekerja dengan sendirinya, dan membuat agen-agen yang berpartisipasi di dalamnya dapat berpraktik dalam ekonomi perhatian dan visibilitas yang diwadahi melalui proses mediatisasi. Instalogic-fair menjelaskan bagaimana institusi pasar seni rupa semakin mengadaptasikan berbagai logika dalam proses mediatisasi (logika ekonomi pasar, penyangkalan praktis dan estetika, dengan logika Instagram) dan menegosiasikan berbagai logika tersebut untuk memaksimalkan keuntungan ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan mengimplementasikan instalogic-fair Art Jakarta menggenggam kutub otonom (autonomous) sekaligus heteronom (heteronomous) yang sebelumnya dipandang sebagai suatu oposisi biner. Dengan proses mediatisasi, Art Jakarta menempatkan keduanya sebagai bentuk komplementer untuk menutupi kelemahan masing-masing kutub untuk membangun ranah baru. Melalui instalogic-fair, institusi pasar seni juga memanifestasikan adaptasi multilogika tersebut menjadi suatu aturan main dari ranah baru yang dibentuk. Dengan desain dari ranah baru dan kepercayaan kolektif bahwa ranah tersebut merangkul berbagai kalangan. Art Jakarta juga membentuk illusio dari hierarki yang dibangun sehingga membuat berbagai agen percaya bahwa praktiknya layak untuk diperjuangkan. Dengan illusio ini Art Jakarta memastikan ranahnya berkelanjutan dan ekspansif melalui keberhasilan perjuangan agen-agen dalam ranah yang dibangunnya.
The study examines the process of mediatisation undergone by Art Jakarta (2023) as an institution in winning and consolidating its position within the fine art market. The focus of the research is directed toward answering how Art Jakarta deploys strategies to win the market within a mediatized field of visual art through its Instagram account @artjakarta, and why such strategies are undertaken. To trace these questions, the study draws upon Karl Polanyi’s (1957) theory of the market, Pierre Bourdieu’s (1993) field of cultural production, and Stig Hjarvard’s (2008, 2013) institutional approach to mediatization. The method employed in this research is a multisited ethnographic approach that combines observations of offline and online sites and thematic analysis.
The findings demonstrate that Art Jakarta (2023) has undergone a transformation from an art fair into an instalogic-fair. Through the instalogic-fair, Art Jakarta emerges as an art-market institution that no longer merely centers on the trade of artworks, but instead deploys artworks as tokens that ensure the market can operate autonomously, enabling participating agents to engage in economies of attention and visibility facilitated through processes of mediatization. The instalogic-fair elucidates how art-market institutions increasingly adapt multiple logics within mediatization (market economy, practical and aesthetic denegation, and Instagram’s platform logic) and negotiate these logics to maximize economic, social, and cultural gains. By implementing the instalogic-fair, Art Jakarta simultaneously grasps the autonomous and heteronomous poles, which were previously understood as a binary opposition. Through mediatization, Art Jakarta positions these poles as complementary forces, each compensating for the limitations of the other in order to construct a newly configured field. Through the instalogic-fair, the institution also manifests this multilayered adaptation of logics into a rule of the game that governs the emergent field it shapes. With the design of this new field and the collective belief that it inclusively accommodates diverse agents, Art Jakarta further constructs an illusio of the hierarchy it establishes one that convinces agents that their practices are worth pursuing. Through this illusio, Art Jakarta secures the sustainability and expansiveness of its field by enabling the successful struggles of agents operating within it.
Kata Kunci : instalogic-fair, art fair, adaptasi multilogika, institusi pasar seni, ranah