Laporkan Masalah

PRAKTIK LAND GRABBING: DAMPAKNYA TERHADAP TRANSFORMASI WISATA DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN UBUD, KABUPATEN GIANYAR, PROVINSI BALI

maghrisa nur pasha, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc. dan Dr. Erlis Saputra, S.Si., M.Si.

2026 | Tesis | S2 Geografi

Perkembangan pariwisata di Kecamatan Ubud mengalami transformasi yang sangat signifikan dalam beberapa dekade terakhir dan membawa implikasi luas terhadap perubahan spasial, ekonomi, sosial-budaya, dan pendidikan masyarakat lokal. Pariwisata yang awalnya bertumpu pada seni, budaya, dan lanskap agraris berkembang menjadi industri yang berorientasi pada pasar global melalui pembangunan vila, resort, wellness retreat, dan berbagai fasilitas penunjang gaya hidup. Transformasi ini memicu alih fungsi lahan sawah secara masif dan menghadirkan persoalan struktural berupa praktik land grabbing yang berlangsung secara gradual, legal-formal, dan sering disamarkan dalam narasi pembangunan serta penyediaan lapangan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika transformasi pariwisata Ubud dan keterkaitannya dengan praktik land grabbing, serta mengkaji dampaknya terhadap struktur ekonomi, orientasi pendidikan, dan kehidupan sosial-budaya masyarakat lokal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran dengan mengombinasikan analisis spasial temporal penggunaan lahan tahun 1999–2025 dan penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam dengan masyarakat lokal, tokoh adat, dan pelaku pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspansi pariwisata mendorong penyusutan lahan sawah secara signifikan dan menggeser fungsi lahan dari ruang produksi pangan dan penyangga ekologis menjadi komoditas visual dan aset ekonomi. Praktik land grabbing di Ubud tidak terjadi melalui perampasan koersif, melainkan melalui kesepakatan jangka pendek yang dianggap menguntungkan, namun dalam jangka panjang melemahkan kontrol masyarakat atas lahan, mempercepat proletarisasi tenaga kerja lokal, dan menciptakan ketergantungan pada sektor pariwisata berupah rendah. Dampak lanjutan terlihat pada penyempitan orientasi pendidikan generasi muda ke jalur vokasional pariwisata serta meningkatnya ketegangan sosial-budaya akibat komodifikasi ruang, ritual, dan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.

Tourism development in Ubud District has undergone a long-term transformation that is closely intertwined with changes in land use, local livelihoods, and socio-cultural structures. This study is motivated by the growing intensity of land-use conversion from agricultural land to tourism infrastructure, which raises critical questions about land control, social equity, and sustainability. The research aims to analyze how tourism expansion has shaped spatial transformation and facilitated land grabbing practices, as well as to examine its economic, socio-cultural, and educational impacts on local communities. By framing tourism development as a structural process, this study highlights the interconnection between global tourism dynamics and local agrarian change.

This research employs a mixed qualitative-spatial approach, combining temporal spatial analysis of land-use change (1999–2025) with in-depth interviews involving local communities, customary leaders, and tourism workers. The findings reveal that tourism-driven land grabbing in Ubud does not occur through overt coercion, but rather through legal-formal and short-term agreements perceived as beneficial by local landowners, such as land leasing, employment opportunities, and temporary compensation. In the long term, however, these mechanisms weaken community control over land, accelerate the proletarianization of local labor, and increase economic dependence on low-wage tourism employment. The expansion of tourism has also shifted educational orientations toward short-term vocational pathways aligned with the hospitality sector, while socio-culturally it has blurred the boundaries between private, sacred, and public spaces through the commodification of rituals and everyday life. Overall, the study demonstrates that tourism-led development in Ubud has produced structural inequalities and socio-ecological vulnerabilities, positioning land grabbing as a central feature of contemporary tourism transformation.


Kata Kunci : Land Grabbing, Tourism, Agrarian Transformation, Socio-Ecological Impacts

  1. S2-2026-529073-abstract.pdf  
  2. S2-2026-529073-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-529073-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-529073-title.pdf