Komunikasi Efektif Dalam Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa Panggung Lestari Di Kalurahan Panggungharjo Kapanewon Sewon Kabupaten Bantu
Muhammad Maulidan, Alia Bihrajihant Raya, S.P., M.P., Ph.D; Prof Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.,
2026 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
BUM Desa di Indonesia per Januari 2025 berjumlah 61.951. Namun
banyak dari mereka yang masih menghadapi tantangan kekeringan seperti
keterbatasan kemampuan manajerial, rendahnya kualitas SDM, kekurangan
transparansi dan akuntabilitas, kurangnya akses permodalan, kesulitan dalam
identifikasi dan pemilihan jenis usaha, lemahnya kolaborasi aktor dan komunikasi
yang tidak efektif. Di tengah tantangan tersebut, BUM Desa Panggung Lestari
merupakan contoh sukses nasional karena kemandirian finansialnya dan tata kelola
yang profesional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi efektif di
antara pemangku kepentingan internal dan pemangku kepentingan eksternal pada pengelolaan
BUM Desa Panggung Lestari, Kalurahan Panggungharjo. Keberhasilan BUM Desa
ini dalam mencapai kemandirian finansial menjadikannya model percontohan
nasional. Oleh karena itu bagaimana dinamika di balik pencapaian tersebut
memerlukan kajian mendalam agar menjadi pedoman dalam tata kelola BUM Desa
yang berkelanjutan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Analisis Jaringan Sosial (SNA). Data dikumpulkan melalui
kuesioner terstruktur dan wawancara mendalam kepada seluruh pengelola BUM
Desa Panggung Lestari, serta menelusuri data sekunder dari laporan tahunan,
artikel ilmiah, dan media sosial BUM Desa Panggung Lestari dan unit usahanya.
Analisis data menggunakan pendekatan analisis menyeluruh (whole network) dan
analisis ego (jaringan yang berpusat pada ego). Hasil analisis SNA pada ranah internal
menunjukkan adanya diferensiasi struktur yang tegas: tingkat strategi manajemen
jaringan yang padat dan kohesif, densitas 66,67?n pola sirkular-dialogis untuk
membangun konteks visi, pada tingkat manajemen operasional memiliki jaringan
renggang dan tersedak dengan kepadatan 0,98?ngan pola hierarkis-instruktif demi
efisiensi eksekusi. Pada ranah eksternal penelitian ini juga mengungkap model
Hexahelix (Pemerintah, Akademisi, Swasta, Komunitas, Media, serta Hukum dan
Regulasi) serta pola hubungan kontinum (koordinasi, kerja sama, dan kolaborasi) yang
terbentuk dari aktivitas jaringan tersebut. Sinergi menghasilkan ini memaksakan berupa
legitimasi kelembagaan ganda, akselerasi finansial, dan ketahanan sosial
operasional yang berkelanjutan
BUM Desa di Indonesia per Januari 2025 berjumlah 61.951. Namun
banyak dari mereka yang masih menghadapi tantangan kekeringan seperti
keterbatasan kemampuan manajerial, rendahnya kualitas SDM, kekurangan
transparansi dan akuntabilitas, kurangnya akses permodalan, kesulitan dalam
identifikasi dan pemilihan jenis usaha, lemahnya kolaborasi aktor dan komunikasi
yang tidak efektif. Di tengah tantangan tersebut, BUM Desa Panggung Lestari
merupakan contoh sukses nasional karena kemandirian finansialnya dan tata kelola
yang profesional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi efektif di
antara pemangku kepentingan internal dan pemangku kepentingan eksternal pada pengelolaan
BUM Desa Panggung Lestari, Kalurahan Panggungharjo. Keberhasilan BUM Desa
ini dalam mencapai kemandirian finansial menjadikannya model percontohan
nasional. Oleh karena itu bagaimana dinamika di balik pencapaian tersebut
memerlukan kajian mendalam agar menjadi pedoman dalam tata kelola BUM Desa
yang berkelanjutan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Analisis Jaringan Sosial (SNA). Data dikumpulkan melalui
kuesioner terstruktur dan wawancara mendalam kepada seluruh pengelola BUM
Desa Panggung Lestari, serta menelusuri data sekunder dari laporan tahunan,
artikel ilmiah, dan media sosial BUM Desa Panggung Lestari dan unit usahanya.
Analisis data menggunakan pendekatan analisis menyeluruh (whole network) dan
analisis ego (jaringan yang berpusat pada ego). Hasil analisis SNA pada ranah internal
menunjukkan adanya diferensiasi struktur yang tegas: tingkat strategi manajemen
jaringan yang padat dan kohesif, densitas 66,67?n pola sirkular-dialogis untuk
membangun konteks visi, pada tingkat manajemen operasional memiliki jaringan
renggang dan tersedak dengan kepadatan 0,98?ngan pola hierarkis-instruktif demi
efisiensi eksekusi. Pada ranah eksternal penelitian ini juga mengungkap model
Hexahelix (Pemerintah, Akademisi, Swasta, Komunitas, Media, serta Hukum dan
Regulasi) serta pola hubungan kontinum (koordinasi, kerja sama, dan kolaborasi) yang
terbentuk dari aktivitas jaringan tersebut. Sinergi menghasilkan ini memaksakan berupa
legitimasi kelembagaan ganda, akselerasi finansial, dan ketahanan sosial
operasional yang berkelanjutan
Kata Kunci : BUM Desa, Hexahelix, Komunikasi Efektif, Pola Relasi Kontinum, Social Network Analysis