Jalan Seni Pertunjukan Di Muhammadiyah: Tarik Ulur Seniman, Pimpinan, Dan Masyarakat Muhammadiyah
Heni Siswantari, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil; Dr. Samsul Maarif, MA
2026 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Seni pertunjukan dalam
Muhammadiyah menghadapi pertentangan mendasar antara identitas modernis puritan
yang terus memunculkan perdebatan mengenai batasan ajaran agama dan kebebasan
berekspresi seni. Penelitian ini mencoba menelusuri jejak jalan seni pertunjukan Muhammadiyah dari tahun
1912-2024. Penelitian ini juga berusaha mengkaji proses tawar menawar antara
seniman, pimpinan organisasi (Majelis Tarjih dan Tajdid), dan masyarakat akar
rumput dalam membentuk pola praktik seni pertunjukan Muhammadiyah.
Metode penelitian yang digunakan
yaitu kualitatif melalui pengamatan langsung yang melibatkan peneliti,
wawancara mendalam dengan 45 narasumber (seniman, pimpinan, dan masyarakat
Muhammadiyah) di 8 Provinsi, serta kajian arsip dokumen resmi Muhammadiyah terkait
seni pertunjukan. Langkah langkah
analisis data kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meliputi
persiapan dan pengorganisasian data, transkripsi data, pemahaman korpus data,
memoning data, koding data, menghasilkan kategori dan tema, serta melaporkan
hasil analisis. Triangulasi dilakukan melalui 5 tahap yaitu pengumpulan
data dari berbagai sumber dan teknik, 2) Perbandingan informasi dengan pemangku
kepentingan, 3)Perbandingan dengan temuan di lapangan, 4) Penerapan kode
triangulasi dan 5) Analisis dan interpretasi temuan.
Hasil penelitian menunjukkan
perkembangan seni pertunjukan Muhammadiyah dari masa colonial, kependudukan
Jepang, Awal kemerdekaan, Orde baru, dan Reformasi yang menunjukkan dinamika
yang sangat menarik. Gagasan pro dan kontra seni dalam Muhammadiyah menghasilkan
berbagai respon baik seniman, pimpinan
maupun masyarakat. Terdapat tiga pola sikap seniman (1) eksploratif, yang
memaknai kreativitas seni sebagai sarana pengalaman spiritual yang melampaui
batas formal; (2) negosiatif, yang mengembangkan perpaduan kontekstual antara
budaya lokal dan nilai Islam; dan (3) integratif, yang mengutamakan kepatuhan
terhadap ajaran dan keputusan organisasi. Ketiga pola ini berinteraksi melalui
tiga dimensi utama yaitu artistik (perubahan dan penyesuaian bentuk pertunjukan),
simbolik (penafsiran ulang makna), dan ideologis (dialog antara spiritualitas
dan kreativitas).
Kontribusi teoretis utama
penelitian ini terletak pada perumusan medan tension field triadik
(seniman, pimpinan, masyarakat) sebagai model analisis baru. Penelitian ini
memperkaya studi seni pertunjukan dengan memperkenalkan negosiasi
performativitas yang menghasilkan negosiasi estetika sebagai model khas
identitas seni pertunjukan dalam Muhammadiyah yang mana seni menjadi arena
tarik menarik berkelanjutan antara tuntutan kemurnian doktrin agama dan
aspirasi estetika modern.
Performing arts within
Muhammadiyah face a fundamental conflict between its puritanical modernist
identity, which continues to spark debate over the boundaries of religious
teachings and freedom of artistic expression. This study attempts to trace the
dynamics of Muhammadiyah performing arts from 1912 to 2024. It also examines
the negotiation process between artists, organizational leaders (Majelis Tarjih
and Tajdid), and the grassroots community in shaping Muhammadiyah performing
arts practices.
The research method used was
qualitative through direct observation involving researchers, in-depth
interviews with 45 informants (artists, leaders, and Muhammadiyah community
members) in eight provinces, and a review of official Muhammadiyah archives related
to performing arts. The qualitative data analysis steps used in this study
included data preparation and organization, data transcription, understanding
the data corpus, data memorization, data coding, generating categories and
themes, and reporting the analysis results. Triangulation was conducted through
five stages: 1) data collection from various sources and techniques, 2)
comparison of information with stakeholders, 3) comparison with field findings,
4) application of triangulation codes, and 5) analysis and interpretation of
findings.
The research results show the
development of Muhammadiyah performing arts from the colonial period, the
Japanese occupation, early independence, the New Order, and the Reformation,
demonstrating a very interesting dynamic. Pro and con ideas about art within
Muhammadiyah have generated various responses from artists, leaders, and the
community. Three patterns of artist attitudes are identified: (1) explorative,
which interprets artistic creativity as a means of spiritual experience that
transcends formal boundaries; (2) negotiative, which develops a contextual
blend between local culture and Islamic values; and (3) integrative, which
prioritizes adherence to organizational teachings and decisions. These three
patterns interact through three main dimensions: artistic (change and
adaptation of performance forms), symbolic (reinterpretation of meaning), and
ideological (dialogue between spirituality and creativity).
The main theoretical contribution
of this research lies in the formulation of a triadic tension field (artist,
leader, community) as a new analytical model. This research enriches the study
of performing arts by introducing the negotiation of performativity that
produces aesthetic negotiation has become a distinctive model of performing
arts identity within Muhammadiyah, where art becomes an arena for continuous
negotiation between the demands of the purity of religious doctrine and modern
aesthetic aspirations.
Kata Kunci : Seni Pertunjukan, Identitas, Muhammadiyah, Negosiasi Performativitas, Negosiasi Estetika