Laporkan Masalah

Studi Fenomenologis Pengalaman Flourishing Perempuan Sasak Pelaku Tradisi Nyesek

Baiq Ulya Ainun Nadia, Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog

2026 | Tesis | S2 Psikologi

Flourishing merupakan gambaran kehidupan yang ideal yang merujuk pada pemahaman kesejahteraan yang menyeluruh. Penelitian kualitatif dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) ini mengeksplorasi fenomena flourishing yang dialami oleh perempuan Sasak sebagai pelaku tradisi menenun (nyesek) di Desa Sukarara, Pulau Lombok. Tujuan penelitian adalah untuk memahami bagaimana praktik nyesek memengaruhi kesejahteraan psikologis perempuan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap empat partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa flourishing pada penenun merupakan sebuah sistem terintegrasi. Kesejahteraan ini terwujud melalui tiga pilar yang saling menguatkan: Agensi (afeksi positif dan pencapaian), Keseimbangan Holistik (regulasi fisik, dukungan sosial, dan pengaruh budaya), serta Spiritualitas (meaning dan flow) sebagai aspek fundamental yang menggerakkan elemen-elemen kesejahteraan dalam konteks masyarakat kolektif. Implikasi teoritis penelitian ini merekonstruksi model flourishing dalam perspektif psikologi masyarakat kolektif, sementara secara praktis menekankan pentingnya pemberdayaan berbasis makna.

Flourishing is a term used to describe an ideal life and refers to a comprehensive understanding of well-being. This qualitative study, employing Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), explores the flourishing experienced by Sasak women weavers (nyesek) in Sukarara Village, Lombok Island. The study aims to understand how the nyesek practice affects women’s flourishing. Data were collected through semi-structured interviews with four participants. The findings reveal that the weavers' flourishing constitutes an integrated system. This flourishing is manifested through three reinforcing pillars: Agency (positive affect and achievement), Comprehensive Balance (physical regulation, social support, and cultural influence), and Spirituality (meaning and flow) as the primary foundation that drives the elements of well-being in a collective context. Theoretically, this research reconstructs the flourishing model from an indigenous psychology perspective, while practically emphasizing the importance of meaning-based.

Kata Kunci : Flourishing, nyesek, perempuan Sasak, tradisional, penenun

  1. S2-2026-524694-abstract.pdf  
  2. S2-2026-524694-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-524694-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-524694-title.pdf