Laporkan Masalah

Neoliberalisme, Kekerasan dan Migrasi Tenaga Kerja: Studi Kasus Migrasi WNI Ke Singapura Pada Periode 2021-2025

Saskia Tasnim Utami, Prof. Dr. Phil. Gabriel Lele S.IP ., M.A

2026 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional

Penelitian ini menganalisis meningkatnya migrasi Warga Negara Indonesia (WNI) ke Singapura dalam konteks deregulasi pasar tenaga kerja yang dipengaruhi oleh kebijakan neoliberal pascapandemi. Fokus utama kajian ini adalah bagaimana deregulasi ketenagakerjaan di Indonesia membentuk konfigurasi kekerasan struktural, kultural, dan langsung sebagaimana dirumuskan dalam teori Segitiga Kekerasan Johan Galtung, serta bagaimana konfigurasi tersebut mendorong migrasi sebagai strategi bertahan hidup dan pencarian martabat kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan desain studi kasus instrumental. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pekerja migran Indonesia, pekerja profesional di Singapura, serta individu yang mengalami perubahan status kewarganegaraan; analisis dokumen kebijakan ketenagakerjaan dan migrasi; serta kajian narasi media sosial. Data kuantitatif berupa survey, statistik ketenagakerjaan nasional digunakan sebagai konteks empiris pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deregulasi pasar tenaga kerja menciptakan kekerasan struktural melalui perluasan kerja kontrak, dominasi sektor informal, dan ketidakpastian pendapatan; kekerasan kultural melalui normalisasi narasi fleksibilitas, meritokrasi semu, dan individualisasi risiko; serta kekerasan langsung yang dialami pekerja dalam bentuk tekanan psikologis pra-migrasi, relasi kerja eksploitatif, diskriminasi verbal, dan lingkungan kerja toksik. Data survei memperlihatkan tingginya tingkat stres sebelum migrasi dan persepsi ketidakadilan kerja, sementara wawancara mengungkap pengalaman konkret kekerasan interpersonal dan administratif yang memperkuat keputusan migrasi. Migrasi ke Singapura dalam penelitian ini tidak dipahami semata sebagai respons terhadap perbedaan upah, melainkan sebagai bentuk peaceful resistance terhadap sistem ketenagakerjaan domestik yang tidak memberikan kepastian dan pengakuan. Temuan ini menegaskan bahwa mobilitas tenaga kerja Indonesia merupakan ekspresi rasional dan etis untuk keluar dari konfigurasi kekerasan yang saling memperkuat dalam ekonomi politik neoliberal. 

This study analyzes the increasing migration of Indonesian citizens (WNI) to Singapore in the context of labor market deregulation influenced by post-pandemic neoliberal policies. The main focus of this study is how labor deregulation in Indonesia creates a configuration of structural, cultural, and direct violence as formulated in Johan Galtung's Triangle of Violence theory, and how this configuration encourages migration as a survival strategy and the search for work dignity. This study uses a mixed-methods approach with an instrumental case study design. Qualitative data were collected through in-depth interviews with Indonesian migrant workers, professionals in Singapore, and individuals experiencing changes in citizenship status; analysis of labor and migration policy documents; and a study of social media narratives. Quantitative data in the form of surveys and national labor statistics are used as supporting empirical context. The results show that labor market deregulation creates structural violence through the expansion of contract work, the dominance of the informal sector, and income uncertainty; cultural violence through the normalization of narratives of flexibility, pseudo-meritocracy, and individualization of risk; and direct violence experienced by workers in the form of pre-migration psychological stress, exploitative work relations, verbal discrimination, and a toxic work environment. Survey data demonstrate high levels of pre-migration stress and perceptions of job inequity, while interviews reveal concrete experiences of interpersonal and administrative violence that reinforce migration decisions. Migration to Singapore, in this study, is not understood solely as a response to wage disparities, but rather as a form of peaceful resistance to a domestic employment system that lacks security and recognition. These findings confirm that Indonesian labor mobility is a rational and ethical expression of escape from the mutually reinforcing configurations of violence within the neoliberal political economy. 

Kata Kunci : Migrasi tenaga kerja, Deregulasi Ketenagakerjaan, Neoliberalisme, Segitiga kekerasan

  1. S2-2026-537092-abstract.pdf  
  2. S2-2026-537092-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-537092-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-537092-title.pdf