Beyond The Tech Competition: Dinamika Relasi Kuasa India dalam Politik Startup Global
Ahmad Fajar Maulana, Dr. Maharani Hapsari, S.IP., M.A.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional
Studi ini menghadirkan diskursus baru dari sisi nonteknis bisnis startup melalui relasi politis di tengah persaingan AS-Tiongkok dalam pasar startup global. Eksistensi India sebagai pemasok chip dan semikonduktor bagi AS, hingga kerja sama dagang dengan Tiongkok, telah memudahkan India dalam menghadirkan diri sebagai aktor baru dalam kontestasi pasar startup global. Momentum ini menjadi modalitas dalam merespons hegemoni dari AS-Tiongkok selama ini. Menggunakan metode process tracing, studi ini mencoba menjawab pertanyaan terkait perjalanan India dalam membangun eksistensi di pasar startup global selama satu dekade (2015-2024) dan dampak yang dihasilkan terhadap perubahan lanskap persaingan startup global.
Perjalanan India dimulai dengan peluncuran inisiasi Digital India 2015 dan Startup India 2016 sebagai bagian dari visi transformasi India. Hal ini selaras dengan semangat multi-alignment yang dibawa oleh PM Narendra Modi dalam strategi kebijakan luar negeri India. Sejak saat itu, pertumbuhan ekosistem startup India terus meroket hingga masuk dalam pemeringkatan Top 10 Kota Terbaik dalam Global Startup Ecosystem 2022-2025. Pencapaian ini dapat terjadi dengan adanya tiga modalitas utama ekosistem startup domestik India, mulai dari jaringan kota sebagai startup hub, talenta digital dengan ekosistem riset dan keterlibatan Indiaspora, hingga adanya kapasitas India dalam memimpin agenda global pada BRICS 2021 dan G20 2023.
Dengan tetap menjaga hubungan antara kedua negara hegemon, pola strategi India menunjukkan pendekatan hedging. Selain itu, India juga terus memanfaatkan kapasitas domestik dalam pendekatan diplomatic balancing. Meski demikian, ancaman seperti kapitalisme big tech company hingga ketidakstabilan kondisi geopolitik India-Tiongkok dan aturan main oleh AS masih hadir dalam perjalanan India membangun eksistensinya di pasar startup global. Dengan kapasitas dan status sebagai aktor pendatang, tujuan India hanya memastikan dominasi AS-Tiongkok tidak semakin kuat, serta memproyeksikan diri sebagai alternatif pilihan bagi negara lain dalam kontestasi pasar startup global.
This study contributes to enriching the startup discourses through the political-economic lens by examining power relations amid US-China hegemony. Situating the previous cooperation as a key supplier of semiconductors to the US while maintaining trade cooperation with China, India has strategically positioned itself as an emerging actor in the global startup ecosystem. Using the process tracing method, this study observes India’s decade-long journey (2015–2024) in developing its domestic capacity and exploring how this trajectory has reshaped the power landscape in the global startup market. The analysis highlights the Digital India 2015 and Startup India 2016 initiatives as a starting point of India’s startup journey, which were aligned with India’s foreign policy orientation under Prime Minister Narendra Modi. From then on, the growth of India’s startups has risen into the Top 10 Cities with Startup Ecosystem in 2022-2025. This achievement is supported by three key modalities: the startup hubs networks, digital talent pool with a research ecosystem, and the leadership capacity through its BRICS and G20 presidencies. The findings indicate that India’s strategy pattern is using a hedging strategy, while simultaneously adding its leadership influence through diplomatic balancing. Nevertheless, the challenges are coming from the data capitalism by the big tech firms, geopolitical instability with China, and regulatory constraints shaped by US-led frameworks. Being a newcomer is a big deal. Rather than seeking to replace the hegemons, India’s strategic goal is to prevent further consolidation of US-China hegemony, while positioning itself as an alternative partner in the global startup ecosystem.
Kata Kunci : AS-Tiongkok, Hedging, India, Politik Startup, Relasi Kuasa