Strategi Akulturasi Budaya dalam Joint venture: Analisis Orientasi Individu Berdasarkan Vancouver Index of Acculturation
Aditya Arya Wicaksono, Ely Susanto, S.IP., M.B.A., Ph.D.,
2026 | Tesis | S2 MANAJEMEN (MM) JAKARTA
Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi orientasi akulturasi individu serta mengkaji
kendala adaptasi budaya dalam lingkungan kerja Joint venture (JV),
dengan studi kasus pada PT Orecon Putra Perkasa (OPP) sebagai perusahaan hasil
kolaborasi antara PT Putra Perkasa Abadi (PPA) dan PT Orecon Sadanus Perkasa
(OSP). Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed method)
dengan rancangan sequential explanatory. Tahap kuantitatif dilakukan
menggunakan Vancouver Index of Acculturation (VIA) untuk memetakan
orientasi akulturasi individu pada dua dimensi, yaitu Heritage culture dan Mainstream culture, yang kemudian dilengkapi dengan
tahap kualitatif melalui wawancara mendalam guna mengeksplorasi dinamika
akulturasi di lingkungan kerja JV. Data kuantitatif diperoleh dari 45 karyawan
OPP dengan latar belakang perusahaan induk yang berbeda, sedangkan data
kualitatif dikumpulkan dari informan kunci pada level manajerial. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa orientasi terhadap budaya kerja utama (Mainstream
culture) cenderung lebih tinggi
dibandingkan orientasi pemeliharaan budaya asal (Heritage culture), yang mencerminkan keterbukaan
individu terhadap penerapan praktik kerja bersama. Namun demikian, temuan
penelitian menunjukkan bahwa kendala utama dalam proses akulturasi budaya tidak
bersumber dari penolakan individu terhadap budaya kerja JV, melainkan berkaitan
dengan keterbatasan dalam mekanisme komunikasi lintas fungsi, proses
adaptasi terhadap sistem dan cara kerja, serta pola interaksi antar
individu yang berasal dari perusahaan induk yang berbeda. Ketika komunikasi
berjalan efektif, proses adaptasi difasilitasi secara memadai, dan interaksi
antar perusahaan induk dikelola melalui penyelarasan ekspektasi yang jelas,
perbedaan orientasi budaya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran dan
penguatan organisasi. Sebaliknya, komunikasi yang tidak efektif, adaptasi yang
parsial, dan interaksi antar perusahaan induk yang kurang terkoordinasi
cenderung menghambat pengambilan keputusan dan memperlambat koordinasi kerja.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa tantangan akulturasi budaya
di OPP bersifat operasional dan manajerial, sehingga memerlukan pengelolaan
organisasi yang sadar, terarah, dan berkelanjutan.
This study aims to
identify individual acculturation orientations and examine cultural adaptation
challenges in a Joint venture (JV) work environment, using PT Orecon
Putra Perkasa (OPP)—a Joint venture between PT Putra Perkasa Abadi (PPA)
and PT Orecon Sadanus Perkasa (OSP)—as a case study. The research adopts a
mixed-method approach with a sequential explanatory design. The quantitative
phase employs the Vancouver Index of Acculturation (VIA) to map
individual acculturation orientations across two dimensions, namely Heritage
culture and Mainstream culture, followed by a qualitative phase
using in-depth interviews to explore acculturation dynamics in the JV
workplace. Quantitative data were collected from 45 employees with different
parent-company backgrounds, while qualitative data were obtained from key
managerial informants. The results indicate that orientation toward the mainstream
JV culture tends to be higher than
orientation toward Heritage culture,
reflecting employees’ openness to adopting shared work practices. However, the
findings reveal that the primary challenges in the acculturation process are
not rooted in individual resistance to the JV culture, but rather in
limitations related to cross-functional communication, adaptation to
systems and work processes, and patterns of interaction between
employees originating from different parent companies. When communication
mechanisms function effectively, adaptation processes are adequately
facilitated, and inter-parent interactions are managed through clear alignment
of expectations, cultural differences can be transformed into sources of
organizational learning and strengthening. Conversely, ineffective
communication, partial adaptation, and poorly coordinated inter-parent
interactions tend to hinder decision-making and slow work coordination.
Overall, the study concludes that acculturation challenges at OPP are
predominantly operational and managerial in nature, highlighting the importance
of deliberate organizational facilitation in managing communication,
adaptation, and interaction across parent-company boundaries.
Kata Kunci : akulturasi budaya, joint venture, komunikasi, adaptasi, interaksi antar perusahaan induk