Strategi PT XYZ Dalam Meningkatkan Utilisasi Dana Geothermal Resource Risk Mitigation Untuk Pembiayaan Eksplorasi Panas Bumi Di Indonesia
Herindra Cahya Airlangga, Dr. R. Mahelan Prabantarikso, SE., Ak, MM., CWM., CERG., CHRM.
2026 | Tesis | S2 MANAJEMEN (MM) JAKARTA
Indonesia memiliki potensi EBT
besar, tetapi pemanfaatannya belum optimal, sementara permintaan listrik terus
meningkat sehingga pemerintah mendorong kenaikan porsi EBT dan menempatkan
panas bumi sebagai baseload strategis. Namun pemanfaatan panas bumi masih
rendah. PT XYZ ditugaskan mengelola fasilitas GREM untuk mendukung eksplorasi
melalui pembiayaan dan de risking, tetapi sejak 2020 belum ada realisasi
pembiayaan proyek, dana lebih banyak terserap untuk operasional. Hal ini
menunjukkan kendala tata kelola, proses teknis yang panjang, persyaratan
teknis/lingkungan yang dianggap ketat, serta pipeline dan keekonomian proyek
yang belum matang.
Penelitian ini bertujuan, melalui
pendekatan deskriptif kualitatif, dengan
identifikasi faktor lingkungan eksternal dan internal yang mempengaruhi
PT XYZ, memetakan posisi portofolio usaha perusahaan, serta merumuskan strategi
yang paling tepat guna meningkatkan utilisasi dana GREM di PT XYZ. Data
penelitian terdiri atas data primer yang didapat melalui wawancara kepada
manajemen PT XYZ, Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, serta pengembang
panas bumi dari BUMN dan sektor swasta dan data sekunder, bersumber melalui
profil perusahaan, RJPP, laporan tahunan, serta dokumen internal dan eksternal
lainnya. Analisa lingkungan eksternal dilakukan menggunakan kerangka PESTEL, Porter’s
Five Forces, dan key success factors, sedangkan analisis lingkungan
internal dengan VRIO. Kemudian, hasil analisis dirumuskan dalam Matriks EFE dan
IFE untuk menentukan posisi usaha pada Matriks IE, kemudian alternatif strategi
diprioritaskan melalui penerapan QSPM.
Mengacu pada analisa lingkungan
eksternal, peluang yang paling dominan untuk perusahaan merupakan tantangan teknis lapangan yang
mendorong kebutuhan fasilitas de risking dan ancaman terbesarnya adalah resistensi
sosial/isu konservasi berpotensi menunda proyek. Atas skor EFE 3,35 (kuat). Serta faktor internal kekuatan tertinggi
adalah skema de risking yang menjadi nilai tambah dan memiliki kelemahan
sinergi antar divisi internal yang belum optimal. Atas nilai IFE 2,88
(rata-rata). Untuk Matriks IE berada kuadaran sel II menunjukkan pada tahap grow and build melalui strategi intensif
dan integratif untuk meningkatkan utilisasi dana GREM. Matriks SWOT didapati 11
strategi alternatif serta untuk prioritas utama strategi menggunakan QSPM adalah
kegiatan market sounding, grem workshop bagi pengembang, penguatan organisasi
internal dan pelatihan terkait geothermal. Hasil analisa penelitian ini menghasilkan
strategi peningkatan utilisasi dana GREM yang sejalan dalam meningkatkan
proyeksi permintaan panas bumi 21,5?ri total bauran energi nasional pada
tahun 2030.
Indonesia has significant renewable
energy potential, but it has not been utilized optimally. At the same time,
electricity demand continues to rise, prompting the government to increase the
share of renewables in the national energy mix and position geothermal as a
strategic baseload source. However, geothermal utilization remains low. In this
context, PT XYZ has been mandated to manage the GREM facility to support the
high-risk exploration phase through financing and de risking schemes, yet since
2020 there has been no realized financing for exploration projects, with funds
largely absorbed by operational costs. This indicates constraints related to
governance, lengthy technical processes, stringent perceived
technical/environmental requirements, and an immature project pipeline and
project bankability.
This study employs a descriptive
qualitative approach to identify the external and internal environmental
factors affecting PT XYZ, map the company’s business portfolio position, and
formulate the most appropriate strategies to enhance the utilization of the
GREM fund at PT XYZ. The research data comprise primary data obtained through
interviews with PT XYZ’s management, the MoF, the MoMR, and geothermal
developers from state-owned enterprises and the private sector, as well as
secondary data drawn from the company profile, RJPP, annual reports, and other
internal and external documents. The external environment is analyzed using the
PESTEL framework, Porter’s Five Forces, and key success factors, while the
internal environment is assessed using the VRIO framework. The results are then
synthesized into the EFE and IFE matrices to determine the business position in
the IE matrix, and strategic alternatives are subsequently prioritized using
the QSPM.
Referring to the external
environmental analysis, the company’s most dominant opportunity is the field’s
technical challenges, which drive the need for de-risking facilities, while its
greatest threat is social resistance/conservation issues that may delay
projects. The EFE score is 3.35 (strong). Internally, the highest strength is
the de-risking scheme as an added value, while a key weakness is that synergy
among internal divisions is not yet optimal. The IFE score is 2.88 (average).
In the IE Matrix, the company falls in Cell II, indicating a grow-and-build
position, supported by intensive and integrative strategies to increase GREM
fund utilization. The SWOT Matrix generated 11 alternative strategies, and the
main priorities based on the QSPM are: conducting market sounding, organizing
GREM workshops for developers, strengthening the internal organization, and
providing geothermal-related training. Overall, this study proposes strategies
to increase GREM fund utilization that align with the goal of raising the
projected geothermal share to 21.5% of the total national energy mix by 2030.
Kata Kunci : Panas bumi, strategi peningkatan, EBT, PESTEL, Porter’s Five Forces, key success factors, Matriks EFE, IFE, IE, Matriks SWOT, QSPM