Strategi Pemasaran Berbasis Analisis Rantai Nilai di Paguyuban Batik Giriloyo Kabupaten Bantul Provinsi DIY
Sekar Ayu Anindiarani, Dr. Novita Erma Kristanti, S.T.P., M.P. ; Dr. Wagiman, S.T.P., M.Si.
2026 | Tesis | S2 Teknologi Industri Pertanian
Industri batik tulis merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia sekaligus memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif berkelanjutan. Kampung Batik Giriloyo di Yogyakarta dikenal sebagai salah satu sentra batik tulis tradisional yang memiliki nilai historis, filosofis, dan kearifan lokal yang kuat. Dinamika pariwisata dan perubahan perilaku konsumsi menunjukkan adanya ketimpangan antara peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dengan rendahnya tingkat pembelian batik tulis. Kondisi ini mengindikasikan perlunya strategi pemasaran berkelanjutan yang berfokus pada penciptaan dan komunikasi nilai produk secara lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pemasaran berkelanjutan bagi industri batik tulis di Kampung Batik Giriloyo melalui pendekatan terpadu Value Chain Analysis (VCA), Model KANO, dan bauran pemasaran 8P. Metode penelitian meliputi analisis rantai nilai untuk mengidentifikasi aktivitas utama penciptaan nilai, analisis Model KANO untuk menilai kontribusi atribut produk dan layanan terhadap kepuasan pelanggan, serta perumusan strategi pemasaran berbasis bauran pemasaran 8P. Pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan penyebaran kuesioner kepada pengunjung serta pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas operasiona serta aktivitas layanan berupa edukasi membatik dan kurasi produk, merupakan sumber utama penciptaan nilai batik tulis. Aktivitas tersebut tidak hanya menentukan kualitas dan estetika produk, tetapi juga berfungsi sebagai diferensiasi budaya yang memperkuat posisi Kampung Batik Giriloyo sebagai eco-heritage brand. Analisis Model KANO mengungkap bahwa atribut estetika, nilai budaya, dan pengalaman wisata tergolong Attractive, sementara harga berada pada kategori Must-Be sehingga menuntut keadilan dan keterjangkauan. Berdasarkan temuan tersebut, strategi pemasaran dirumuskan melalui segmentasi harga dan diversifikasi produk untuk menjaga keberlanjutan industri batik tulis.
The hand-drawn batik industry is a vital part of Indonesia’s cultural heritage and holds significant potential for sustainable creative economy development. Giriloyo Batik Village in Yogyakarta is known as a traditional batik center with strong historical, philosophical, and local values. However, tourism dynamics and changing consumer behavior reveal a gap between rising visitor numbers and low batik purchase rates, highlighting the need for sustainable marketing strategies that effectively create and communicate product value. This study aims to formulate a sustainable marketing strategy for Giriloyo’s hand-drawn batik industry using an integrated approach of Value Chain Analysis (VCA), the KANO Model, and the 8P marketing mix. Methods include value chain analysis to identify primary value-creating activities, KANO analysis to assess product and service attributes’ impact on customer satisfaction, and strategy formulation based on the 8P framework. Data were collected through field observations, interviews, and questionnaires with visitors and stakeholders. Results show that operational activities, along with services such as batik education and product curation, are key sources of value creation. These activities not only determine product quality and aesthetics but also serve as cultural differentiators, strengthening Giriloyo’s position as an eco-heritage brand. KANO analysis indicates that aesthetics, cultural value, and visitor experience fall under the Attractive category, while price is a Must-Be attribute, requiring fairness and affordability. Based on these findings, the sustainable marketing strategy emphasizes price segmentation and product diversification to maintain both cultural and economic sustainability in the hand-drawn batik industry.
Kata Kunci : batik tulis, Value Chain Analysis, model KANO, strategi pemasaran