Transformasi Kebaya Tradisional Menjadi Kebaya Modern: Analisis Makna Simbolik, Nilai dan Hibriditas Budaya Kontemporer.
SHINTA NURZIANA, Dr. Sartini, M. Hum; Dr. Septiana Dwiputri Maharani, S.S., M. Hum.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat
Penelitian ini berangkat dari problem filosofis mengenai pengaruh globalisasi yang memengaruhi transformasi kebaya tradisional menjadi kebaya modern sebagai salah satu produk budaya yang sarat akan makna. Transformasi tersebut tentunya menyebabkan adanya pertukaran antara unsur lokal dan unsur global yang menimbulkan persoalan filosofis mengenai autentisitas identitas budaya serta kesinambungan nilai kultural yang terkandung dalam kebaya. Oleh karena itu, penelitian ini hadir dengan tujuan menganalisis makna simbolik dan nilai kebaya tradisional, menganalisis pergeseran makna pada kebaya modern, dan menjelaskan peran hibriditas sebagai strategi pelestarian nilai budaya dalam konteks kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan model sistematis reflektif. Teknik pengambilan data dilakukan dengan penelitian lapangan dan studi kepustakaan. Data penelitian lapangan diambil melalui wawancara mendalam (indepth interview) pada komunitas pelestari kebaya dan masyarakat, sedangkan data studi kepustakaan diambil melalui pengumpulan data dari berbagai macam sumber literatur. Kemudian, data dianalisis menggunakan teori simbol, nilai dan hibriditas. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan, yaitu: Pertama, kebaya tradisional memiliki pakem, struktur, serta konvensi estetik yang relatif stabil. Setiap elemennya, mulai dari siluet, motif, hingga cara pemakaian memuat makna simbolik yang merepresentasikan nilai-nilai normatif seperti kesantunan, keanggunan, etika sosial, dan identitas perempuan Indonesia. Kedua, kebaya modern menunjukkan adanya modifikasi signifikan baik dari sisi bentuk, fungsi, maupun pemaknaan. Pergeseran ini mendorong representasi kebaya menuju nilai-nilai yang lebih pragmatis dan kontekstual dengan gaya hidup masa kini, seperti ekspresi diri, fleksibilitas, serta inklusivitas gaya hidup. Sehingga, kebaya tidak lagi dibatasi oleh aturan-aturan tradisional yang kaku, tetapi hadir sebagai medium untuk menegosiasikan preferensi personal sekaligus tren mode global. Ketiga, hibriditas menjembatani dua kutub, tradisi dan modernitas sehingga berfungsi sebagai strategi kultural yang menjaga kontinuitas nilai tradisional tetap dipertahankan melalui inovasi desain, sehingga kebaya tidak kehilangan akar budaya, tetapi hadir sebagai ruang negosiasi antara tradisi dan modernitas. Dengan demikian, transformasi kebaya tidak sekadar mencerminkan perubahan visual atau desain semata, tetapi memperlihatkan dinamika budaya yang lebih luas. Kebaya hadir sebagai representasi proses pembentukan identitas budaya Indonesia yang terus bergerak, adaptif terhadap arus global, namun tetap berupaya mempertahankan kontinuitas nilai-nilai budaya yang menjadi fondasinya.
This research stems from a philosophical inquiry into the impact of globalization on the evolution of traditional kebaya into modern kebaya as a culturally significant artifact. Such transformation inevitably generates an exchange between local and global elements, raising philosophical questions about the authenticity of cultural identity and continuity of the cultural values embedded in the kebaya. Therefore, this study aims to analyze the symbolic meanings and values of the traditional kebaya, examine the shifts in meaning that have occurred in modern kebaya, and explain the role of hybridity as a strategy for preserving cultural values in the contemporary context. This study is qualitative research employing as systematic-reflective model. Data were collected trough field research and literature studies. Field data were obtained through in-depth interviews with kebaya preservation communities and the general public, while literature data were gathered from a wide range of scholarly sources. The collected data were then analyzed using theories of symbols, values, and hybridity. The findings reveal three key points. Firts, traditional kebaya possesses established conventions, structural patterns, and relatively stable aesthetic norms. Each of its elements, from the silhouette and motifs to the manner of wearing carries symbolic meanings that represent normative values such as modesty, graces, social ethics, and the collective identity of Indonesian women. Second, modern kebaya demonstrates significant modifications in form, function, and meaning. These shifts direct the representation of kebaya toward more pragmatic and contextually relevant values aligned with contemporary lifestyles, such as self-expression, flexibility, and lifestyle inclusivity. As a result, the kebaya is no longer confined by rigid traditional rules but emerges as a medium for negotiating personal preferences as well as global fashion trends. Third, hybridity bridges the two poles of traditional and modernity, functioning as a cultural strategy that preserve the continuity of traditional values through innovative design. Thus, the kebaya does not lose its cultural roots; rather, it becomes a space of negotiation between tradition and modernity. In conclusion, the transformation of the kebaya is not merely a visual or design alteration but reflects broader cultural dynamics. The kebaya stands as a representation of the ongoing formation of Indonesian cultural identity, adaptive to global flows yet committed to maintaining the continuity of cultural values that forms its foundation.
Kata Kunci : Kebaya tradisional-modern, simbol, nilai, hibriditas budaya.