MENGGAMBAR SEBAGAI REFLEKSI DIRI: EKSPLORASI DIRI ANAK BERISIKO GANGGUAN PERILAKU (CONDUCT DISORDER) DI KABUPATEN SLEMAN
Kemas Rahmat Mubarrak, Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog
2026 | Tesis | S2 Psikologi
Latar
Belakang: Meskipun faktor risiko gangguan perilaku (conduct disorder - CD)
telah banyak diidentifikasi, pemahaman mengenai bagaimana anak-anak berisiko CD
memaknai pengalaman subjektif mereka terhadap lingkungan masih terbatas di
Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman dan
pemaknaan anak berisiko CD terhadap ancaman dan ketidakamanan lingkungan tempat
mereka tumbuh. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
desain fenomenologi berbasis seni (art-based phenomenology). Pengambilan
data dilakukan menggunakan teknik Relational Mapping Interview (RMI)
yang diadaptasi dengan menggabungkan aktivitas menggambar dan wawancara.
Partisipan berjumlah empat anak laki-laki (usia 9–12 tahun) yang dipilih
berdasarkan skrining risiko tinggi pada subskala conduct problems (SDQ).
Data dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis
(IPA). Hasil: Analisis menghasilkan empat tema pengalaman kelompok (Group
Experiential Themes): (1) Rumah sebagai arena konflik dan ketidakamanan;
(2) Sekolah sebagai sumber tekanan dan permusuhan; (3) Permainan dan pergaulan:
antara kompetensi dan bahaya; dan (4) Ruang digital sebagai ‘Dunia Ketiga’ Kesimpulan:
Anak-anak berisiko CD memaknai ekosistem lingkungan mereka sebagai tempat yang
gagal memberikan rasa aman. Perilaku maladaptif yang muncul merupakan bentuk
koping adaptif terhadap ancaman lingkungan. Penggunaan metode visual terbukti
efektif menjembatani keterbatasan verbal anak dalam mengartikulasikan
pengalaman emosional yang kompleks.
Background:
Although risk factors for Conduct Disorder (CD) have been widely identified,
there is limited understanding in Indonesia regarding how children at risk of
CD interpret their subjective experiences within their environments. Objective:
This study aims to explore the experiences and meanings of children at risk of
CD regarding the threats and insecurities of the environment in which they grow
up. Method: This study employed a qualitative approach with an art-based
phenomenology design. Data were collected using adaptation of Relational
Mapping Interview (RMI) technique, which integrates drawing activities with
interview. Participants consisted of four boys (aged 9–12 years) selected based
on high-risk screening scores on the conduct problems subscale of the Strengths
and Difficulties Questionnaire (SDQ). Data were analyzed using Interpretative
Phenomenological Analysis (IPA). Results: The analysis yielded four Group
Experiential Themes: (1) Home as an arena of conflict and insecurity; (2)
School as a source of pressure and hostility; (3) Games and socializing:
between competence and danger; and (4) The digital space as a ‘Third World’. Conclusion:
Children at risk for CD perceive their environmental ecosystems as failing to
provide a sense of safety. The observed maladaptive behaviors represent
adaptive coping mechanisms in response to environmental threats. The use of
visual methods proved effective in bridging verbal limitations, enabling
children to articulate complex emotional experiences.
Kata Kunci : gangguan perilaku, fenomenologi berbasis seni, relational mapping interview, pengalaman subjektif