A BARTHESIAN MYTH ANALYSIS OF THE GOTHIC AESTHETIC IN EMILY THE STRANGE: THE LOST DAYS
Jardin Urbania Basundoro, Rahmawan Jatmiko, S.S., M.A.
2026 | Skripsi | SASTRA INGGRIS
Studi ini menganalisis novel Emily the Strange: The Lost Days menggunakan kerangka mitologi Roland Barthes untuk mengeksplorasi bagaimana keanehan Emily dibangun. Alih-alih memandang keanehan sebagai sifat bawaan, studi ini menganggapnya sebagai sistem tanda. Analisis dimulai dengan kerangka semiologi Barthes untuk mengidentifikasi fungsi peristiwa naratif dan perilaku karakter sebagai penanda yang menghasilkan gagasan keanehan. Elemen-elemen keanehan Emily, seperti pakaian hitamnya, empat kucing hitamnya, ketertarikannya pada angka tiga belas, kondisi amnesianya, dan krisis identitasnya dianalisis sebagai tanda-tanda yang tampak alami dan nyata dalam narasi. Melalui analisis semiologi ini, studi ini menemukan bahwa keanehan Emily berfungsi sebagai mitos yang memberikan makna pada cerita, bukan sekadar deskripsi karakternya. Novel ini menyajikan keanehan sebagai sesuatu yang diinginkan, bukan sebagai sesuatu yang abnormal. Dengan mendemistifikasi tanda-tanda ini, studi ini mengungkap ideologi yang mendasari keanehan Emily, yaitu ideologi individualisme konsumen, di mana identitas didefinisikan melalui perbedaan dan ekspresi diri. Ideologi ini diperkuat tidak hanya dalam narasi, tetapi juga melalui perluasan ke merchandise dan branding yang ada di luar dunia cerita. Studi ini menyimpulkan bahwa novel Emily the Strange: The Lost Days tidak hanya menggambarkan karakter aneh, tetapi juga membangun keanehan sebagai mitos yang menghubungkan identitas pribadi dengan budaya konsumen. Dengan cara ini, individualitas dipersembahkan sebagai sesuatu yang alami dan nyata, yang erat berkaitan dengan tindakan konsumsi.
This study analyzes the novel Emily the Strange: The Lost Days using Roland Barthes’ framework of mythology to examine how Emily’s strangeness is constructed. Rather than treating strangeness as an inherent personality, this study approaches it as a system of signs. The analysis begins with Barthes’ semiological framework in order to identify the function of narrative events and character behaviors as signifiers that produce the idea of strangeness. Emily’s strange elements, such as her black clothing, her four black cats, her fascination with the number thirteen, her state of amnesia, and her identity crisis, are examined as signs that appear natural and self-evident within the narrative. Through this semiological analysis, this study found that Emily’s strangeness functions as a myth that gives meaning to the story, not just as a description of her character. The novel presents strangeness as desirable, instead of presenting it as abnormal. By demystifying these signs, the study reveals the ideology that underlies Emily’s strangeness, that is, the ideology of consumer individualism, in which identity is defined through difference and self-expression. This ideology is reinforced not only within the narrative but also through the extension into merchandise and branding that exist beyond the storyworld. This study concluded that Emily the Strange: The Lost Days does not merely depict a strange character but also constructs strangeness as a myth that connects personal identity to consumer culture. In this way, individuality is presented as something natural and self-evident, which is closely linked to acts of consumption.
Kata Kunci : Keanehan, Identitas, Semiologi, Mitologi, Ideologi, Demistifikasi