The Construction of Pura Kawitan Arya Pakis: Its Impacts on Socio-economic and Inter-religious dynamics in Kediri, East Java
Ni Wayan Nita Ramasuari, Dr. Yulianti
2026 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya
Penelitian
ini mengeksplorasi dinamika pembangunan Pura Kawitan Arya Kepakisan di Desa
Pakis, Kediri, sebuah wilayah dengan demografi mayoritas Muslim, yang
diinisiasi berdasarkan memori kolektif yang tertuang dalam teks genealogi
tradisional atau Babad. Studi ini menyoroti bagaimana Babad berfungsi bukan
sekadar sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai cetak biru fundamental yang
memotivasi klan Arya Kepakisan untuk menghubungkan kembali garis keturunan
mereka dengan leluhur era Majapahit di Jawa Timur. Melalui pendekatan
etnografi, penelitian ini mengungkapkan bahwa pendirian situs sakral ini
melampaui aspek fisik semata, menjadi arena krusial bagi negosiasi identitas
klan di tengah ruang sosial yang berbeda keyakinan. Analisis utama difokuskan
pada transformasi hubungan antarumat beragama, di mana resistensi awal dari
masyarakat lokal berhasil dikelola melalui dialog intensif dan kesepakatan
sosial mengenai batasan non-proselitisasi. Temuan studi menunjukkan bahwa
dengan adanya penerapan Community-Based Tourism (CBT), ketegangan antaragama
tidak lagi terjadi. Partisipasi aktif warga dalam aktivitas ekonomi penunjang
ziarah telah mengubah potensi konflik menjadi relasi yang stabil, membuktikan
bahwa rekonstruksi narasi leluhur dan pragmatisme ekonomi dapat berjalan
beriringan dalam menjamin koeksistensi sosial.
This study explores the dynamics of the construction of the Kawitan Arya
Kepakisan Temple in Pakis Village, Kediri, an area with a Muslim majority,
which was initiated based on collective memory as recorded in traditional
genealogical texts or Babad. This study highlights how Babad functions not
merely as a historical record, but as a fundamental blueprint that motivates
the Arya Kepakisan clan to reconnect their lineage with their ancestors from
the Majapahit era in East Java. Through an ethnographic approach, this research
reveals that the establishment of this sacred site transcends mere physical
aspects, becoming a crucial arena for the negotiation of clan identity in a
socially diverse space. The main analysis focuses on the transformation of
interfaith relations, where initial resistance from the local community was
successfully managed through intensive dialogue and social agreements on
non-proselytization boundaries. The study's findings show that with the
implementation of Community-Based Tourism (CBT), inter-religious tensions no
longer occur. Active community participation in economic activities supporting
pilgrimage has transformed potential conflicts into stable relationships,
proving that the reconstruction of ancestral narratives and economic pragmatism
can go hand in hand in ensuring social coexistence.
Kata Kunci : Babad, Pura Kawitan, Hubungan Antaragama, Community-Based Tourism (CBT), Identitas Klan/ Babad, Pura Kawitan, Inter-religious relations, Community-Based Tourism (CBT), Clan Identity.