Laporkan Masalah

Budaya Timur Tengah dalam Kesenian Hadrah Kuntulan dan Gembrung di Kabupaten Banyuwangi: Kajian Akultarasi Budaya

Tasya Syams El-diny, Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.

2026 | Tesis | S2 Sastra/Kajian Timur Tengah

Penelitian ini penelitian kualitatif. Objek yang dikaji dalam penelitian ini adalah kesenian hadrah kuntulan dan gembrung di Kabupaten Banyuwangi yang merupakan kesenian hasil akulturasi budaya Timur Tengah dengan Banyuwangi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja bentuk akulturasi yang terlihat, mengapa akulturasi dapat terjadi, dan bagaimana proses akulturasi terjadi pada dua kesenian lokal di Banyuwangi tersebut. Objek tersebut dilihat dan dianalisis lebih dalam lagi dengan menggunakan teori akulturasi budaya Zubrzycki, Padilla-Perez, dan Koentjaraningrat. Adapun data yang digunakan berupa data primer, berupa hasil wawancara bersama para pelaku dua kesenian tersebut dan data sekunder, berupa buku, artikel, makalah, serta sumber literatur lainnya.

Analisis yang telah dilakukan terhadap penelitian menghasilkan beberapa hasil. Pertama, bentuk-bentuk akulturasi dari kesenian lokal Banyuwangi bernuansa Timur Tengah dapat dilihat dari musik dan alat musik yang digunakan, koreografi, busana penampil, serta budaya pembacaan barzanji. Kedua, penyebab akulturasi terjadi dapat ditinjau dari dua sebab, yaitu internal dan eksternal. Sebab internal terjadinya akulturasi berkaitan dengan respons masyarakat Banyuwangi dan sifat masyarakat Banyuwangi terhadap budaya baru yang dibawa. Adapun sebab eksternal terdiri dari dua, yaitu penyebaran agama Islam yang terjadi di Banyuwangi melalui jalur penyebaran budaya, dan urgensi kesenian dalam kehidupan manusia. Kedua sebab itu menunjukkan bahwa akulturasi terjadi karena terdapat ketercapaian terhadap apa yang Padilla-Perez sebutkan, yaitu kognisi sosial, kompetensi kultural, stigma sosial, dominasi sosial, dan identitas sosial. Ketiga, proses akulturasi pada kesenian lokal tersebut melalui tiga tahap, yaitu akomodasi atau akulturasi, konflik, dan asimilasi. Pada masa akomodasi terjadi pengenalan budaya Timur Tengah. Adapun pada tahap konflik terjadi segregasi di masyarakat yang membuat stagnasi proses akulturasi. Akan tetapi, konflik dapat dilalui, dan terjadilah proses yang terakhir yaitu asimilasi, ketika budaya Timur Tengah dan budaya Banyuwangi bersatu tanpa harus kehilangan ciri khas masing-masing budaya.


This research is qualitative research. The objects of this research are the Hadrah Kuntulan and Gembrung in Banyuwangi Regency, which are the result of acculturation between the Middle Eastern culture and Banyuwangi’s culture. The purpose of this study is to determine the forms of acculturation, why acculturation can happen, and how the acculturation process occurs in those two local arts in Banyuwangi. The objects are examined and analyzed in greater depth by using the theories of cultural acculturation by Zubrzycki, Padilla-Perez, and Koentjaraningrat. The data used are primary data, derived from interviews with practitioners of the two arts, and secondary data, including books, articles, papers, and other literature.

The analysis of this research yielded several findings. First, the forms of acculturation in Banyuwangi's local arts with Middle Eastern nuances can be seen in the music and instruments used, choreography, performers' attire, and the culture of barzanji recitation. Second, the reasons for acculturation can be examined from two perspectives: internal and external. The internal causes of acculturation are related to the Banyuwangi community's response and character to the new culture they brought. The next external causes consist of two: the spread of Islam in Banyuwangi through cultural channels, and the importance of art in human life. These two causes indicate that acculturation occurs because of the achievement of what Padilla-Perez mentioned: social cognition, cultural competence, social stigma, social dominance, and social identity. Third, the acculturation process in local arts goes through three stages: accommodation or acculturation, conflict, and assimilation. During the accommodation stage, Middle Eastern culture is introduced. Meanwhile, during the conflict stage, segregation occurs in society, which stagnate the acculturation process. However, the conflict can be overcome, and the final process, assimilation, occurs when Middle Eastern and Banyuwangi cultures merge without losing each characteristic. 


Kata Kunci : Budaya Timur Tengah, Banyuwangi, Akulturasi, Hadrah Kuntulan, Gembrung

  1. S2-2026-529999-abstract.pdf  
  2. S2-2026-529999-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-529999-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-529999-title.pdf