Distribusi harga lahan kotamadia Yogyakarta tahun 1991 dan faktor-faktor yang mempengaruhinya (suatu analisis peta menggunakan sistem grid)
Muslich A. Nampira, Drs. Mas Sukoco, M.Sc.
1994 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUHTulisan ini mengemukakan tentang penggunaan grid berdasarkan angka kilometer fiktif Jawa - Madura yang disusun oleh Direktorat Tata Guna Tanah Direktorat Jenderal Agraria tahun 1975 untuk analisis peta, dimana untuk kepentingan ini setiap grid dibagi menjadi sel-sel berukuran 0,5 x 0,5 cm. Data visual dari setiap sel itu selanjutnya ditransformasi menjadi data numerikal atau data bilangan untuk kepentingan analisa data. Keunggulan dalam menggunakan sistem grid adalah: a). Setiap pengguna peta dapat dengan mudah dan cepat mencari letak lokasi suatu data sampai dengan satu titik di atas peta. b). Memudahkan pelacakan suatu data dan suatu gejala sesuai dengan kenyataan di lapangan. c). Sebagai alat bantu transformasi data untuk kepentingan analisa data keruangan, sedang kelemahan-kelemahannya adalah: a). Akibat dari adanya generalisasi data, menyebabkan terjadi perubahan bentuk (pola) dan ukuran luas dari data asli. b). Adanya penambahan garis kotak-kotak dapat menimbulkan pengertian ganda terhadap simbol area yang digunakan. c). Transformasi data secara manual untuk daerah yang luas, sangat membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya sehingga tidak efektif. Penelitian ini bertujuan: a). Menyusun peta pokok dan peta-peta bantu untuk kepentingan analisis peta. b). Analisis peta melalui pendekatan visual dan pendekatan kuantitatif. c). Analisis data untuk mengetahui faktor dominan perubahan harga lahan di daerah penelitian, sedang tujuan penelitian lebih dititik beratkan pada pemahaman tentang pentingnya pendudukan peta, serta sebagai bahan masukan yang bersifat informatif kepada penentu kebijakan dalam rangka penetapan harga dasar tanah dan perencanaan kegiatan pembangunan. Metode-metode yang digunakan: a). Kompilasi peta, untuk penyusunan peta pokok dan peta-peta bantu. b). Pemilihan kecamatan-kecamatan kunci secara purposive untuk mewakili kecamatan-kecamatan di wilayah administrasi Kotamadya Yogyakarta. c). Penentuan sampel area secara sistematis. d). Analisa data secara statistik dan hasil perhitungannya diuji dengan taraf signifikansi 1% menggunakan tabel r product “moment”. Hasil analisis peta secara kualitatif menunjukkan bahwa harga lahan tertinggi di Kotamadya Yogyakarta terdapat di pusat kota dan pusat-pusat yang lebih kecil dari kota, yaitu di jalan Malioboro, jalan Solo, jalan Pangeran Mangkubumi, jalan Diponegoro, jalan Jenderal Sudirman, jalan A. Yani, jalan Sultan Agung, jalan Senopati, jalan Brigjen Katamso, dan Jalan Kolonel Sugiyono, jalan Suryatman, jalan Mataram. Selain itu hasil analisa statistik pada signifikansi menunjukkan bahwa faktor yang lebih menentukan pengaruhnya terhadap distribusi harga lahan tahun 1991 di Kotamadya Yogyakarta adalah faktor-faktor: jarak dari pusat (rxy = 0,772), penggunaan lahan (rxy = 0,595), dan klas fasilitas (rxy = 0,667).
-
Kata Kunci : Harga lahan,kota Yogyakarta,DIY