Persepsi Pemangku Kepentingan dalam Pengelenggaraan Desa Wisata Krebet, Kabupaten Bantul, terhadap Kemenerusan Batik Kayu Krebet
RIZKY ASA AULIA TRISEDYA, Isti Hidayati, S.T., M.Sc., Ph.D.
2026 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAInteraksi dinamis antara alam dan manusia (budaya) mempengaruhi kondisi dan kemenerusan saujana. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari persepsi pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan Desa Wisata Krebet terhadap kemenerusan Batik Kayu Krebet. Data didapatkan dari wawancara terhadap para pemangku kepentingan, yaitu masyarakat, pengelola desa wisata, dan pemerintah daerah secara purposive sampling dengan metode gatekeeping. Analisis dilakukan melalui deduksi kualitatif menggunakan empat kata kunci pembentuk desa wisata, yaitu atraksi, aksesibilitas, amenitas, dan kelembagaan. Hasil menunjukkan bahwa atraksi, aksesibilitas, amenitas, dan kelembagaan desa wisata Krebet terbentuk dari adanya kerja sama yang baik antar-pemangku kepentingan. Sementara itu, dari persepsi masyarakat, desa wisata mengubah lanskap mata pencaharian masyarakat dari yang semula hanya bertani menjadi pengrajin batik kayu Pengelola desa wisata beranggapan bahwa desa wisata menjadikan kerajinan batik kayu sebagai objek komodifikasi budaya. Di sisi lain, manajemen dan fasilitasi pemerintah daerah mendukung keterlibatan aktif masyarakat dalam penyelenggaraan desa wisata. Kondisi ini menunjukkan bahwa persepsi pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan Desa Wisata Krebet berdampak positif terhadap pelestarian dan kemenerusan Batik Kayu Krebet.
The dynamic interaction between nature and humans (culture) influences the condition and sustainability of a cultural landscape. This qualitative study aims to determine the impact of stakeholder perceptions in the implementation of the Krebet Tourism Village on the sustainability of Krebet Wooden Batik. Data were obtained from interviews with stakeholders, namely the community, tourism village managers, and local government through purposive sampling using gatekeeping method. The analysis was conducted through qualitative deduction using four keywords that form a tourism village, namely attractions, accessibility, amenities, and institutions. The findings suggest that the attractions, accessibility, amenities, and institutions of the Krebet tourism village are formed from good cooperation between stakeholders. Meanwhile, from the community's perception, the tourism village changes the livelihood landscape of the community from being only farmers to wooden batik craftsmen. The tourism village managers assume that the tourism village makes wooden batik crafts an object of cultural commodification. On the other hand, the management and facilitation of the local government support the active involvement of the community in the implementation of the tourism village. This condition indicates that stakeholder perceptions in the implementation of the Krebet Tourism Village have a positive impact on the preservation and sustainability of Krebet Wooden Batik.
Kata Kunci : desa wisata, kemenerusan, kerajinan batik kayu, persepsi pemangku kepentingan, dan saujana pedesaan.