Kerja Bermakna dalam Tantangan Kelayakan Kerja Pekerja Barista di Kafe Kategori Menengah Kebawah Karya Milenial Group, Yogyakarta
Firdauzy Ronaa Mandadewi, Rezaldi Alief Pramadha, S.E., M.S.S.
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Dominasi pekerjaan informal dan belum terpenuhinya prinsip kerja layak menjadi tantangan bagi pekerja di sektor jasa, termasuk barista di Kafe kategori menengah kebawah. Dalam kondisi tersebut, pekerja tetap dituntut untuk bertahan dan memaknai pekerjaannya di tengah keterbatasan kondisi kerja yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna kerja dalam konteks tantangan kelayakan kerja menurut perspektif barista di Kafe kategori menengah kebawah di bawah manajemen Karya Milenial Group, Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang fokus pada pengalaman, persepsi, dan pemaknaan subjektif pekerja terhadap kondisi kerja yang mereka alami. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap barista yang memiliki pengalaman kerja minimal 4 bulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian aspek kerja layak belum sepenuhnya terpenuhi, salah satunya upah yang belum sesuai dengan UMP, para barista tetap mampu memaknai pekerjaannya secara positif. Meskipun begitu, banyak barista yang masih bertahan karena keterbatasan kapasitas pendidikan mereka sehingga pilihan kerja mereka menjadi sedikit. Kerja bermakna dibentuk melalui lingkungan kerja yang suportif, kemampuan menghasilkan pendapatan secara mandiri, serta pengalaman kerja yang berkontribusi pada pembentukan identitas diri dan perbaikan kondisi hidup. Selain itu, makna kerja juga dipahami sebagai sesuatu yang kontekstual dan sangat bergantung pada relasi sosial serta tempat kerja.
Temuan ini menunjukkan bahwa kerja bermakna dapat dibentuk di tengah keterbatasan kelayakan kerja sebagai bentuk adaptasi pekerja dalam menghadapi kondisi kerja yang rentan, namun sekaligus menyoroti kerentanan pekerja informal ketika kebermaknaan kerja tidak disertai pemenuhan kondisi kerja yang layak.
The dominance of informal employment and the incomplete fulfillment of decent work principles pose significant challenges for workers in the service sector, including baristas in lower–middle category cafés. Under these conditions, workers are still required to persist and find meaning in their work despite the limitations of existing working conditions. This study aims to understand the meaning of work within the context of decent work challenges from the perspective of baristas employed in lower–middle category cafés under the management of Karya Millennial Group in Yogyakarta. This research is a descriptive qualitative study that focuses on workers’ experiences, perceptions, and subjective interpretations of the working conditions they encounter. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving baristas with a minimum of four months of work experience.
The findings indicate that although several aspects of decent work have not been fully fulfilled particularly wages that do not meet the provincial minimum wage baristas are still able to perceive their work positively. However, many baristas remain in their jobs due to limited educational qualifications, which restrict their employment options. Meaningful work is constructed through a supportive work environment, the ability to earn income independently, and work experiences that contribute to identity formation and improvements in living conditions. In addition, the meaning of work is understood as contextual and highly dependent on social relations and the workplace setting.
These findings demonstrate that meaningful work can be constructed amid limited decent work conditions as a form of workers’ adaptation to vulnerable employment situations, while simultaneously highlighting the vulnerability of informal workers when the experience of meaningful work is not accompanied by the fulfillment of decent working conditions.
Kata Kunci : kerja bermakna, kerja layak, barista, pekerja rentan.