Laporkan Masalah

Makeup Digital: Konstruksi Kecantikan Dalam Filter Tiktok Bold Glamour

ANANDA PUTRI NUR KARIM, Elok Santi Jesica, S.Pd., M.A.

2025 | Skripsi | Sosiologi

Penelitian ini mengkaji bagaimana konstruksi kecantikan digital dibentuk melalui penggunaan filter Bold Glamour oleh kreator laki-laki dan perempuan di TikTok, serta mengapa filter tersebut mampu mengonstruksi ulang standar estetika di ruang digital. Menggunakan metode kualitatif dengan analisis wacana multimodal, penelitian ini membaca relasi antara visual, performativitas, dan algoritma dalam membentuk representasi wajah ideal sebagai bagian dari proses konstruksi sosial kecantikan. Landasan teoretis penelitian utama adalah teori Cosmetic Gaze yang dikemukakan oleh Bernadette Wegenstein (2012).

Temuan menunjukkan bahwa kecantikan digital merupakan hasil interaksi kompleks antara manusia, teknologi, dan budaya visual. Pertama, Bold Glamour menggeser definisi kecantikan dari natural beauty menuju algorithmic beauty, di mana wajah ideal diproduksi melalui logika teknologi yang menstandarkan proporsi wajah berdasarkan estetika Barat. Proses ini membentuk realitas sosial baru melalui eksternalisasi penggunaan filter, objektivasi hasil visual sebagai representasi yang dianggap nyata, dan internalisasi bahwa wajah terfilter merupakan versi ideal diri.

Kedua, TikTok berfungsi sebagai arena produksi kecantikan sosial-algoritmik yang menormalisasi wajah modifikasi digital. Algoritma bertindak sebagai agen sosial yang menentukan visibilitas, memperkuat kapitalisme visual, dan mendorong pengguna menyesuaikan diri dengan estetika global demi validasi sosial. Ketiga, melalui cosmetic gaze, pandangan terhadap wajah dimediasi oleh “mata teknologi,” menghasilkan algorithmic gaze yang menempatkan AI (Artificial Intelligence) sebagai penilai kecantikan.

Keempat, dinamika gender turut terbentuk dalam penggunaan filter: kreator perempuan menyerap standar kecantikan yang diciptakan oleh masyarakat dan diperkuat oleh teknologi, lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar atau ideal, sementara kreator laki-laki menggunakan Bold Glamour secara parodis sebagai bahan humor untuk menunjukkan bahwa laki-laki juga bisa memakai filter tanpa kehilangan citra kelelakiannya, dengan kata lain maskulinitas bisa ditafsirkan dengan cara yang lebih santai. 

Kelima, Bold Glamour memunculkan homogenisasi wajah digital dan bias estetika Eurocentric yang mereproduksi kolonialisme visual. Terakhir, terdapat paradoks autentisitas, di mana filter yang tampak natural menciptakan bentuk autentisitas semu. Filter Bold Glamour terlihat sangat natural, sehingga wajah yang sudah dimodifikasi tampak seperti wajah asli.

Penelitian ini menegaskan bahwa kecantikan digital bukan sekadar persoalan estetika, tetapi mekanisme sosial-teknologis yang membentuk identitas, tubuh, dan praktik penilaian diri dalam masyarakat berbasis algoritma.

This study examines how digital beauty is constructed through the use of the Bold Glamour filter by male and female creators on TikTok, as well as why the filter is able to reconstruct aesthetic standards within digital spaces. Using a qualitative approach with multimodal discourse analysis, this research analyzes the relationship between visuals, performativity, and algorithms in shaping representations of the ideal face as part of the social production of beauty. The main theoretical foundation of this study is Bernadette Wegenstein’s (2012) theory of the Cosmetic Gaze.

The findings indicate that digital beauty results from a complex interaction between humans, technology, and visual culture. First, Bold Glamour shifts the definition of beauty from natural beauty to algorithmic beauty, in which idealized facial features are produced through technological logics that standardize proportions according to Western aesthetics. This process generates a new social reality through the externalization of filter use, the objectification of visual results as representations perceived as real, and the internalization of filtered faces as the ideal version of oneself.

Second, TikTok functions as an arena of social-algorithmic beauty production that normalizes digitally modified faces. The algorithm acts as a social agent that determines visibility, reinforces visual capitalism, and encourages users to adapt to global aesthetics in pursuit of social validation. Third, through the cosmetic gaze, one’s perception of the face is mediated by the “technological eye,” producing an algorithmic gaze that positions AI (Artificial Intelligence) as an evaluator of beauty.

Fourth, gender dynamics also emerge in the use of the filter: female creators absorb beauty standards produced by society and reinforced by technology, then perceive them as natural or ideal; meanwhile, male creators use Bold Glamour parodically as a form of humor to show that men can also use filters without compromising their masculine image—indicating that masculinity can be interpreted in a more relaxed way.

Fifth, Bold Glamour generates digital facial homogenization and Eurocentric aesthetic biases that reproduce visual colonialism. Finally, a paradox of authenticity emerges, where a natural-looking filter creates a form of artificial authenticity. The filter appears highly realistic, making the digitally modified face seem like one’s actual face.

This study affirms that digital beauty is not merely an aesthetic matter but a socio-technological mechanism that shapes identity, the body, and self-evaluation practices in an algorithm-driven society.

Kata Kunci : Bold Glamour, kecantikan digital, TikTok, konstruksi sosial, cosmetic gaze, digital beauty, social construction

  1. S1-2025-462916-abstract.pdf  
  2. S1-2025-462916-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-462916-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-462916-title.pdf