Pusat Kebudayaan Melayu Jambi dengan Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular di Kabupaten Sarolangun
Muhammad Akmal Khadzon Ukhro, Syam Rachma Marcillia, S.T., M.Eng., Ph.D.
2026 | Skripsi | ARSITEKTUR
Jambi, suatu wilayah di Pulau Sumatera, memiliki posisi strategis dengan Sungai Batanghari sebagai ciri khas geografisnya. Sejarah kebudayaan Melayu Jambi telah melalui berbagai tahap, dari Melayu Klasik hingga dipengaruhi oleh Hindu-Buddha dan Islam. Walaupun pengaruh Islam mendominasi kebudayaan Melayu Jambi saat ini, campuran budaya dari masa lalu menciptakan keunikan tersendiri. Namun, di tengah arus globalisasi dan modernisasi, keberlanjutan kebudayaan ini menjadi terancam. Terutama, kebudayaan tradisional sering dianggap ketinggalan zaman oleh generasi muda. Sarolangun, sebuah kabupaten dengan karakteristik kebudayaan yang khas dan berbatasan dengan Sumatera Selatan serta dilewati oleh Jalan Lintas Sumatera, turut berpartisipasi dalam usaha pelestarian melalui perhelatan festival tahunan. Meskipun demikian, keterbatasan fasilitas menjadi hambatan utama dalam menjaga warisan budaya ini.
Dalam menanggapi tantangan ini, diajukan pendekatan arsitektur Neo-Vernakular. Dengan mendesain bangunan yang tidak hanya melestarikan warisan budaya tetapi juga menyesuaikan dengan kebutuhan masa kini, pendekatan ini menggabungkan unsur desain tradisional, bahan lokal, serta teknologi dan bentuk arsitektur modern secara seimbang. Pendirian pusat kebudayaan di Sarolangun diharapkan dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk merawat, mengembangkan, dan menggelar acara kebudayaan. Pusat kebudayaan tersebut juga diharapkan berperan sebagai pusat kegiatan budaya, edukasi, dan rekreasi yang berperan dalam menjaga identitas budaya Melayu di Kabupaten Sarolangun. Melalui langkah ini, diharapkan keberlanjutan dan perkembangan kekayaan budaya Melayu Jambi tetap terjaga di tengah tantangan era modern.
Jambi, a region on the island of Sumatra, holds a strategic position with the Batanghari River as its distinctive geographical feature. The history of Malay culture in Jambi has undergone various stages, from Classical Malay to influences from Hindu-Buddhist and Islamic periods. Although Islamic influence currently dominates Malay culture in Jambi, the blend of cultures from the past creates its unique identity. However, in the midst of globalization and modernization, the sustainability of this cultural heritage is at risk. Particularly, traditional culture is often perceived as outdated by the younger generation. Sarolangun, a district characterized by its distinctive culture, bordering South Sumatra, and traversed by the Sumatra Transversal Road, actively participates in preservation efforts through annual festivals. Nevertheless, limited facilities pose a significant obstacle in safeguarding this cultural heritage.
In response to these challenges, a Neo-Vernacular architecture approach is proposed. By designing structures that not only preserve cultural heritage but also adapt to contemporary needs, this approach integrates traditional design elements, local materials, as well as technology and modern architectural forms in a balanced manner. The establishment of a cultural center in Sarolangun is expected to serve as a hub for the community to preserve, develop, and organize cultural events. This cultural center is also envisioned to play a vital role as a focal point for cultural, educational, and recreational activities, contributing to the preservation of the Malay cultural identity in Sarolangun District. Through these initiatives, it is anticipated that the sustainability and development of Jambi’s Malay cultural richness will endure amidst the challenges of the modern era.
Kata Kunci : Kebudayaan, Jambi, Melayu, Pusat Kebudayaan, Neo-Vernakular