Laporkan Masalah

Representasi Wacana pada Kondisi Krisis dalam Rubrik Komik Majalah Djaka Lodang Tahun 1998

Kenyo Kartikowengi, Dr. Djarot Heru Santosa, M. Hum

2026 | Skripsi | SASTRA NUSANTARA

Penelitian ini merupakan kajian sastra yang menganalisis 85 rubrik komik dari majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang tahun 1998. Peran media lokal populer ini tidak hanya sebagai penghibur, melainkan cermin dinamika kehidupan masyarakat. Melihat studi sebelumnya yang terfokus pada media nasional, penelitian ini menghadirkan perspektif dari sudut akar rumput. Sudut ini membuka pemahaman baru peran media lokal sebagai resistensi budaya pada periode transisi kekuasaan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengategorisasi serta menganalisis wacana dominan yang merepresentasikan kondisi krisis 1998. 
Penulis menggunakan kerangka Sosiologis Multidimensi dari Max Weber yang terdiri atas; ekonomi, politik, dan sosial, untuk mengklasifikasi tema wacana. Setelah itu, untuk menyimpulkan wacana yang terbentuk, metode kualitatif dilakukan bersamaan dengan Analisis Wacana Kritis (AWK) dari Norman Fairclough. Model ini terdiri dari tiga level: teks (narasi dalam komik), praktik diskursif (proses produksi), dan praktik sosial budaya (kondisi masyarakat Jawa serta situasi sejarah tahun 1998).
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa objek pada penelitian ini konsisten menerapkan humor dan satire sebagai sarana kritik realitas kondisi krisis. Wacana dominan yang teridentifikasi meliputi: (1) dampak krisis moneter pada akar rumput; (2) respon akar rumput terhadap krisis moneter; (3) kritik terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta kultur kekuasaan Orde Baru; (4) kondisi era-reformasi serta transisi kekuasaan; (5) peneguhan nilai, kultur, serta budaya masyarakat; serta (6) ketegangan kondisi masyarakat. Keseluruhan wacana tersebut berperan sebagai wacana tandingan yang berbeda dari wacana dominan kala itu. Hal ini menegaskan komik bukan sekedar perekam isu makro kondisi negara, tetapi penyiar isu mikro yang dekat dengan masyarakat.

This literary study analyzes 85 comic strips from the Javanese-language magazine Djaka Lodang published in 1998. While previous research has focused on national media, this study highlights a grassroots perspective, offering new insights into the role of local media as a form of cultural resistance during Indonesia’s transitional period of power. The research aims to categorize and analyze the dominant discourses that represent the conditions of the 1998 crisis.

To obtain a specific picture of these emerging discourses, this research employs Max Weber’s theory of social stratification, examining economic, political, and social dimensions. This framework utilizes a qualitative method integrated with Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis, which explores three interrelated levels: text (comic narratives), discursive practice (production processes), and sociocultural practice (the historical context of Javanese society).

This research reveals that Djaka Lodang’s 1998 comic strips consistently utilized humor and satire as critical tools to address the realities of the crisis. Six dominant discourses were identified: (1) the monetary crisis's impact on grassroots communities; (2) grassroots responses to the monetary crisis; (3) critiques of corruption, collusion, and nepotism and the New Order's power culture; (4) reform era conditions and the transition of power; (5) shifts in societal values and culture; and (6) the emergence of social tensions. Collectively, these narratives function as a counter-discourse that stood distinct from the dominant narratives of that period. Ultimately, this research affirms that comic strips serve as more than mere recorders of macro-level national issues; they act as reporters of micro-level realities that are deeply relevant to the populace.


Kata Kunci : komik, Jawa, Djaka Lodang, representasi, dan wacana kritis

  1. S1-2026-474925-abstract.pdf  
  2. S1-2026-474925-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-474925-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-474925-title.pdf