Paradoks Identitas dalam Wacana Politik Éric Zemmour di Ruang Publik Prancis Kontemporer
Kirana Azahra, Dr. Aprillia Firmonasari, M.Hum., DEA.,
2026 | Skripsi | SASTRA PERANCIS
Penelitian ini menelaah konstruksi identitas nasional Éric Zemmour melalui tuturan-tuturannya di media Prancis, khususnya CNEWS dan BFMTV pada tahun 2025. Éric Zemmour merupakan seorang jurnalis, penulis, dan politisi Prancis yang dikenal sebagai figur sayap kanan dengan retorika keras terhadap imigrasi, Islam, dan multikulturalisme. Penelitian ini menyoroti bagaimana Zemmour mengonstruksi identitas nasional yang eksklusif dengan menolak identitas, budaya, dan simbol yang dianggap asing, terutama Islam dan imigran. Studi ini menggunakan teori representasi Stuart Hall dan hibriditas, third space dari Homi K. Bhabha sebagai landasan teori. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis tiga dimensi Norman Fairclough yaitu analisis teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Data berupa transkrip tuturan Zemmour di CNEWS dan BFMTV diklasifikasikan, dianalisis dan dikaitkan dengan teori yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zemmour membangun identitas nasional Prancis sebagai sesuatu yang homogen melalui strategi eksklusi terhadap Islam dan imigran, sedangkan posisi Zemmour sebagai keturuanan Yahudi-Aljazair mengungkap sebuah paradoks berupa klaimnya tentang kemurnian identitas justru menegaskan bahwa identitas tidak akan murni dan tetap dalam masyarakat pascakolonial. Melalui penelitian ini, terlihat bahwa wacana Zemmour tidak hanya menghasilkan eksklusi identitas nasional, tetapi juga membukan kontradiksi baru ketika dilihat menggunakan kerangka hibriditas dan representasi.
This study examines Éric Zemmour's construction of national identity through his statements in the French media, particularly CNEWS and BFMTV in 2025. Éric Zemmour is a French journalist, writer, and politician known as a right-wing figure whose rhetoric strongly targets immigration, Islam, and multiculturalism. This study highlights how Zemmour constructs an exclusive national identity by rejecting identities, cultures, and symbols that are considered foreign, especially Islam and immigrants. This study uses Stuart Hall's theory of representation and Homi K. Bhabha's theory of hybridity and third space as its theoretical basis. This study uses Norman Fairclough's three-dimensional critical discourse analysis, namely text analysis, discourse practice, and social practice. The data, in the form of transcripts of Zemmour's statements on CNEWS and BFMTV, were classified, analyzed, and linked to the theory used. The results of this study show that Zemmour constructs French national identity as something homogeneous through a strategy of exclusion against Islam and immigrants, while Zemmour's position as a descendant of Jewish-Algerians reveals a paradox in that his claim of purity of identity actually confirms that identity cannot be pure and fixed in postcolonial society. Through this research, it is evident that Zemmour's discourse not only results in the exclusion of national identity, but also opens up new contradictions when viewed through the framework of hybridity and representation.
Kata Kunci : Identitas Nasional, Paradoks Identitas, Laïcité, othering, Éric Zemmour