Laporkan Masalah

Privilege dalam Arena Gerakan Sosial Lingkungan: Studi Jaringan Green Welfare Indonesia

Nasyawa Nurshafala, Pinurba Parama Pratiyudha, S.Sos., M.A.

2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Gerakan sosial lingkungan yang dipimpin oleh anak muda berkembang sebagai kekuatan signifikan dalam mendorong agenda keberlanjutan. Dalam perspektif New Social Movement (NSM), gerakan ini tidak semata berorientasi pada perubahan struktural atau kebijakan, melainkan menekankan pembentukan identitas kolektif, artikulasi nilai keberlanjutan, serta penggunaan simbol-simbol kultural dalam memperjuangkan isu lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana privilege dalam arena gerakan sosial lingkungan, dengan studi pada Green Welfare Indonesia (GWF), menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam terhadap 6 aktor kunci GWF dan observasi digital pada Instagram dan Linkedin. Analisis data mengintegrasikan konsep privilege dari Sparks dengan kerangka teoretis Pierre Bourdieu mengenai arena (field), modal, dan habitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktor dengan latar belakang pendidikan tinggi, pengalaman organisasi sebelumnya, serta jejaring sosial yang luas memiliki kapasitas lebih besar dalam mengarahkan produksi wacana ideologis dan strategi gerakan GWF. Privilege tersebut termanifestasi dalam otoritas simbolik, terutama dalam proses pengambilan keputusan dan representasi organisasi di ruang publik. Namun demikian, temuan empiris juga memperlihatkan adanya praktik kolaboratif, seperti pembagian peran berbasis kompetensi, yang memungkinkan terjadinya pertukaran modal secara horizontal antaranggota. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa GWF berfungsi sebagai arena yang secara simultan mereproduksi dominasi simbolik sekaligus membuka peluang transformasi habitus kolektif menuju praktik gerakan yang lebih reflektif, partisipatif, dan inklusif. 

Youth-led environmental social movements have emerged as a significant force in advancing sustainability agendas. From the perspective of New Social Movement (NSM) theory, such movements are not solely oriented toward structural or policy change, but rather emphasize the construction of collective identity, the articulation of sustainability values, and the use of cultural symbols in advocating environmental issues. This study aims to analyze how privilege operates within the arena of environmental social movements, using Green Welfare Indonesia (GWF) as a case study. Adopting a descriptive qualitative approach, the research draws on in-depth interviews with six key GWF actors and digital observation of Instagram and LinkedIn platforms. Data analysis integrates the concept of privilege proposed by Sparks with Pierre Bourdieu’s theoretical framework of field, capital, and habitus. The findings indicate that actors with higher educational backgrounds, prior organizational experience, and extensive social networks possess greater capacity to shape ideological discourse and strategic directions within GWF. Such privilege is manifested in symbolic authority, particularly in decision-making processes and the organization’s public representation. Nevertheless, the empirical findings also reveal the presence of collaborative practices, such as competency-based role distribution, which enable horizontal exchanges of capital among members. Accordingly, this study concludes that GWF functions as an arena that simultaneously reproduces symbolic domination while also creating opportunities for the transformation of collective habitus toward more reflective, participatory, and inclusive movement practices.

Kata Kunci : Privilege, Arena, Kapital Bourdieu, Gerakan Sosial Lingkungan, Green Welfare Indonesia (GWF)

  1. S1-2025-493734-abstract.pdf  
  2. S1-2025-493734-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-493734-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-493734-title.pdf