Laporkan Masalah

Temporalitas Naratif dalam Antologi Puisi Imru' al-Qais: Kajian Naratologi Gérard Genette

Hadijah Rima, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum

2026 | Tesis | S2 Sastra

Puisi adalah lambang keunggulan bangsa Arab (par excellence), khususnya pada era pra-Islam. Puisi pada era pra-Islam memiliki aturan yang ketat dan kompleksitas yang berlapis, berbeda dengan puisi kontemporer yang cenderung lebih bebas dan sederhana. Melalui tinjauan pustaka sistematis, ditemukan bahwa studi temporalitas pada puisi era pra-Islam masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pola temporalitas naratif dari sumber awalnya, yaitu puisi era pra-Islam. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis aspek naratif tiga puisi panjang karya Imru' al-Qais, yaitu Mu‘allaqat, Sam? Laka Syauqun, dan Al? ?Im ?ab???n, sebagai representasi dari mahakarya puisi Arab era pra-Islam. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kerangka naratologi temporal Gérard Genette yang mencakup aspek urutan (order), frekuensi, dan durasi untuk memetakan pola naratif temporal yang membangun puisi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek order, ketiga puisi didominasi oleh alur retrospektif dengan penggunaan analepsis yang signifikan, walau didapati pula prolepsis di beberapa bagian puisi. Analepsis pada ketiga puisi pada umumnya berfungsi untuk memperkenalkan karakter, serta sebagai instrumen untuk menegaskan tujuan ideologis fakhr (berbangga diri). Pada aspek frekuensi, ditemukan pola narasi singulatif dan repetitif dengan repetisi pada kata, frasa, dan peristiwa. Pada aspek durasi, penggunaan teknik adegan (scene) mendominasi kecepatan naratif dalam ketiga puisi, yang menunjukkan upaya penyair untuk menyajikan puisi secara dramatis serta memperkuat intensitas plot dan emosi dalam puisi. Hasil analisis naratif temporal pada ketiga puisi juga menunjukkan bahwa puisi Mu‘allaqat memiliki aspek yang paling kompleks dan beragam, yang menunjukkan posisinya sebagai parameter puisi Arab adiluhung.

Poetry serves as the definitive cultural emblem (par excellence) of the Arab nation, particularly during the Pre-Islamic era. Unlike contemporary verse, which favors formal simplicity and structural freedom, Pre-Islamic poetry is characterized by stringent prosodic rules and multi-layered complexity. Through a systematic literature review, this study identifies a significant lacuna in the exploration of temporality within Pre-Islamic poetic traditions. This research aims to delineate the patterns of narrative temporality at its primary source by analyzing three seminal long poems (qasidas) by Imru al-Qais: the Mu‘allaqat, Sam? Laka Syauqun, and Al? ?Im ?ab???n. Utilizing Gérard Genette’s narratological framework, the study examines the dimensions of order, frequency, and duration to map the temporal narrative structures inherent in these masterpieces.

The findings reveal that regarding order, the poems are dominated by retrospective trajectories featuring significant use of analepsis, though prolepsis occurs sporadically. These analepses primarily function to introduce characters and serve as ideological instruments to reinforce fakhr (self-vaunting/boasting). In terms of frequency, the narrative employs singulative and repetitive patterns, with repetitions occurring at the level of words, phrases, and events. Regarding duration, the "scene" technique dominates the narrative pace, reflecting the poet’s endeavor to present the narrative dramatically while intensifying plot tension and emotional resonance. The temporal analysis further indicates that the Mu‘allaqat exhibits the highest degree of complexity and structural diversity, reaffirming its status as the quintessential benchmark of classical Arabic poetic excellence.


Kata Kunci : Puisi Arab klasik, jahiliyyah, Imru al-Qais, naratologi, Gérard Genette

  1. S2-2026-529983-abstract.pdf  
  2. S2-2026-529983-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-529983-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-529983-title.pdf