Laporkan Masalah

EKSISTENSI TUHAN DALAM DIRI MANUSIA DALAM MANUSKRIP ASR?R AL-SUL?K ILA AL-MUL?K KAJIAN HERMENEUTIKA FENOMENOLOGI

Raudhatul Jannah, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum.

2026 | Tesis | S2 Sastra

Eksistensi Tuhan dalam diri manusia merupakan tema sentral dalam manuskrip Asra?r al-Sulu?k ila? al-Mulu?k karya Faqih Jalaluddin al-Asyi. Penggalian makna teks ini berpijak pada suntingan naskah kritis dengan metode landasan (legger) dan penerapan Hermeneutika Fenomenologi Martin Heidegger untuk mengurai struktur pengalaman spiritual Salik di dalamnya. Salik dipahami sebagai Dasein yang menyadari keterlemparannya (Geworfenheit) di dunia. Sementara itu, Qalbu (hati) tidak lagi dimaknai sebatas organ biologis, melainkan sebagai Lichtung ruang keterbukaan tempat Realitas Ilahi menyingkapkan diri (Tajalli). Agar Qalbu mampu menangkap penyingkapan tersebut, diperlukan transendensi dari "keriuhan" duniawi menuju keheningan otentik melalui disiplin zikir yang berkesinambungan. Puncak perjalanan eksistensial ini termanifestasi dalam Maut Ikhtiya?ri?, sebuah kematian sukarela yang memiliki paralelisme dengan konsep Sein-zum-Tode (berada-menuju-kematian). Melalui lenyapnya ego (fana?’), ilusi keterpisahan antara hamba dan Tuhan runtuh, menyisakan kesadaran murni bahwa segala eksistensi hanyalah manifestasi tunggal dari Sang Pemilik Wujud. 


The existence of God within the human self constitutes the central theme in the manuscript Asra?r al-Sulu?k ila? al-Mulu?k by Faqih Jalaluddin al-Asyi. The exploration of this text’s meaning relies on a critical text edition employing the legger (base text) method and the application of Martin Heidegger’s Phenomenological Hermeneutics to unravel the structure of the Salik’s spiritual experience therein. In this perspective, the Salik is understood as Dasein realizing its Geworfenheit (thrownness) in the world. The Qalbu (heart) is interpreted not merely as a biological organ, but as Lichtung a clearing or space of openness where Divine Reality reveals Itself (Tajalli). To enable the Qalbu to grasp this disclosure, a transcendence from worldly "noise" toward authentic silence is required through a continuous discipline of dhikr. The culmination of this existential journey is manifested in Maut Ikhtiya?ri?, a voluntary death possessing parallelism with the concept of Sein-zum-Tode (Being-towards-death). Through the annihilation of the ego (fana?’), the illusion of separation between the servant and God collapses, leaving a pure consciousness that all existence is merely a singular manifestation of the Owner of Being. 


Kata Kunci : Kata Kunci: Asra?r al-Sulu?k, Eksistensi Tuhan, Filologi, Hermeneutika Fenomenologi, Martin Heidegger, Maut Ikhtiya?ri?.

  1. S2-2026-529520-abstract.pdf  
  2. S2-2026-529520-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-529520-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-529520-title.pdf