Laporkan Masalah

Wastra Dalam Dimensi Sosial-Budaya: Studi Praktik Berkain Mahasiswa Kluster Sosial-Humaniora Universitas Gadjah Mada

Nanda Sazkya Khoirunisa, Dr. Realisa Darathea Masardi, S.Ant., M.A.

2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Praktik berkain di kalangan generasi muda telah mengalami pergeseran makna yang signifikan, bertransformasi dari simbol formalitas yang kaku menjadi ekspresi kultural harian yang dinamis. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana dinamika praktik berkain dimaknai dan diaktualisasikan oleh mahasiswa Kluster Sosial Humaniora Universitas Gadjah Mada, serta bagaimana praktik tersebut berkontribusi pada konstruksi identitas dan pembentukan nilai diri (self-worth) dalam dimensi sosial-budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang dilakukan dalam dua tahap, yakni pada Maret hingga Mei 2024 serta pengambilan data tambahan pada Juli 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap enam informan kunci (mahasiswa lokal, peranakan, dan perantau). Data dianalisis secara kualitatif dengan menekankan pada teknik thick description guna menggambarkan performa tubuh dan materialitas wastra secara mendetail, sekaligus sebagai bentuk perlindungan privasi informan dan mitigasi atas kendala teknis pada dokumentasi visual lapangan.


Temuan penelitian menunjukkan bahwa wastra berfungsi sebagai "kulit sosial" (social skin) yang memiliki agensi untuk mendisiplinkan tubuh menjadi lebih reflektif atau membebaskan gerak sesuai kebutuhan modernitas. Dalam hal konstruksi identitas, ditemukan dua mekanisme utama: wastra berfungsi sebagai "jangkar" (anchoring) bagi mahasiswa perantau untuk mempertahankan memori akan rumah, dan sebagai "jembatan" (bridging) bagi mahasiswa beridentitas majemuk untuk mendamaikan sisi-sisi identitas mereka. Lebih jauh, praktik berkain berkontribusi signifikan terhadap peningkatan apresiasi diri melalui akumulasi modal sosial (validasi eksternal) dan penemuan otentisitas diri (kebermaknaan eksistensial). Penelitian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi tradisi oleh mahasiswa merupakan praktif partisipatif yang inklusif, di mana warisan budaya dimaknai ulang sebagai strategi adaptasi identitas di tengah kehidupan urban.

The practice of berkain (wearing traditional textiles) among the youth has undergone a significant shift in meaning, transforming from a rigid symbol of formality into a dynamics of berkain are conceptualized and actualized by students of the Social Sciences and Humanities Cluster at Universitas Gadjah Mada, and how this practice contributes to identity construction and the formation of self-worth within the socio-cultural dimension. This study employs a qualitative method with an ethnographic approach conducted in two stages, from March to May 2024, with additional data collection in July 2025. Data collection was conducted through participant observation and in-depth interviews with six key informants (local, mixed-heritage, and migrant students). Data were analyzed qualitatively, emphasizing thick description to illustrate bodily performance and the materiality of the textiles, while also ensuring informant privacy and mitigating technical constraints regarding field visual documentation.


The findings reveal that textile functions as a "social skin" possessing the agency to either discipline the body into a reflective state or facilitate movement according to modern needs. Regarding identity construction, two primary mechanisms were identified: cloth functions as an "anchor" (anchoring) for migrant students to maintain memories of home, and as a "bridge" (bridging) for students with hybrid identities to reconcile their multiple selves. Furthermore, the practice of berkain significantly contributes to enhancing self-appreciation through the accumulation of social capital (external validation) and the discovery of self-authenticity (existential meaningfulness). This research concludes that the revitalization of tradition by students is an inclusive, participatory practice where cultural heritage is re-appropriated as an identity adaptation strategy amidst urban life.

Kata Kunci : Berkain, Identitas Budaya, Budaya Material, Apresiasi Diri, Mahasiswa Universitas Gadjah Mada/Berkain, Cultural Identity, Material Culture, Self-Worth, Universitas Gadjah Mada

  1. S1-2025-430865-abstract.pdf  
  2. S1-2025-430865-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-430865-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-430865-title.pdf  
  5. S1-2026-430865-abstract.pdf  
  6. S1-2026-430865-bibliography.pdf  
  7. S1-2026-430865-tableofcontent.pdf  
  8. S1-2026-430865-title.pdf