Laporkan Masalah

Trauma dan Rekonsiliasi dalam Novel Air Mata Saudaraku dan Mei Merah 1998

Aisya Jihan Syafiya, Dr. Cahyaningrum Dewojati, S.S., M.Hum.

2025 | Skripsi | S1 SASTRA INDONESIA

Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu gambaran memori traumatis, dampak, serta upaya rekonsiliasi atas trauma memori traumatis yang ditemukan dalam novel Air Mata Saudaraku karya S. Mara Gd. dan Mei Merah 1998 karya Naning Pranoto. Novel Air Mata Saudaraku menceritakan tentang memori traumatis yang dialami oleh keluarga beretnis Tionghoa yang tinggal di Surabaya akibat peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Sementara itu, novel Mei Merah 1998 menceritakan tentang memori traumatis yang dialami oleh para tokoh yang berada di tempat-tempat publik pada saat Kerusuhan Mei 1998 terjadi di Jakarta.

Penelitian ini dilakukan dengan teknik simak, baca, dan catat untuk mengidentifikasi unsur memori traumatis, dampak, dan upaya rekonsiliasi trauma dalam kedua novel tersebut. Dalam mengklasifikasikan dan menginterpretasi data, penelitian ini menggunakan beberapa teori termasuk teori memori, teori trauma, dan teori rekonsiliasi trauma yang diambil dari Maurice Halbwachs, Cathy Caruth, Judith Herman, dan Dominick LaCapra.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat bentuk memori traumatis dalam novel Air Mata Saudaraku, yaitu penjarahan, pembunuhan, pemerkosaan, dan kekerasan fisik dan mental. Dampak trauma yang dialami oleh tokoh dalam novel ini meliputi keputusasaan, perasaan malu, mimpi buruk, hasrat bunuh diri, dan guilt. Dalam novel ini, korban yang mengalami pemerkosaan tidak dapat berekonsiliasi dengan traumanya dan memilih untuk bunuh diri. Sementara itu, tokoh lainnya sedang dalam proses untuk berekonsiliasi dengan traumanya melalui penerimaan kenyataan.

Selanjutnya, pada novel Mei Merah 1998 ditemukan dua bentuk memori traumatis, yaitu penjarahan dan pemerkosaan. Dampak trauma yang dialami oleh tokoh dalam novel ini meliputi keputusasaan, kilas balik, agresi, hasrat bunuh diri, dan guilt. Tokoh yang mengalami pemerkosaan dalam novel ini tidak dapat berekonsiliasi dengan traumanya dan memilih untuk bunuh diri. Sementara itu, tokoh lainnya telah berekonsiliasi dengan traumanya melalui perpindahan dari memori traumatis dan testimoni. Selain itu, arwah dari tokoh yang mengalami pemerkosaan berekonsiliasi dengan traumanya setelah melakukan testimoni.

This research aims to analyze traumatic memories, the effects, and trauma reconciliation efforts found in Air Mata Saudaraku by S. Mara Gd. and Mei Merah 1998 by Naning Pranoto. Air Mata Saudaraku tells the story of a traumatic memory experienced by a Chinese descent family living in Surabaya due to the May 1998 Riot. Meanwhile, Mei Merah 1998 tells the story of the traumatic memory experienced by civilians whilst being in public spaces during the May 1998 Riot in Jakarta.

This research is done by doing observation, reading, and note-taking to identify the traumatic memories, the effects, and the reconciliation efforts found in both novels. In classifying and interpreting the data, this research uses various theories including theory of memory, theory of trauma, and theory of trauma reconciliation taken from Maurice Halbwach, Cathy Caruth, Judith Herman, and Dominick LaCapra.

This research concludes that there are four traumatic memories found in Air Mata Saudaraku, namely looting, murder, rape, and physical and mental abuse. The effects of the trauma found in this novel are despair, shame, nightmare, suicide desire, and guilt. In this novel, the victim of the rape is unable to reconcile with her trauma and choose to kill herself. Meanwhile, the other characters are in the process of reconciliation by accepting the truth.

Secondly, there are two traumatic memories found in Mei Merah 1998, looting and rape. The effects of the trauma experienced by the characters are despair, flashback, aggression, suicide desire, and guilt. In this novel, the victim of the rape is unable to reconcile with her trauma and choose to kill herself. Meanwhile, the other characters in this novel have worked through their trauma through the act of leaving and giving testimony. Aside from that, the spirit of the deceased rape victim also reconciliated with her trauma through giving testimony.

Kata Kunci : Memori, trauma, rekonsiliasi trauma, Maurice Halbwachs, Cathy Caruth, Judith Herman, Dominick LaCapra

  1. S1-2025-474096-abstract.pdf  
  2. S1-2025-474096-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-474096-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-474096-title.pdf  
  5. S1-2026-474096-abstract.pdf  
  6. S1-2026-474096-bibliography.pdf  
  7. S1-2026-474096-tableofcontent.pdf  
  8. S1-2026-474096-title.pdf