Diam Sebagai Medium Transmisi Trauma Antargenerasi dalam Novel Jacaranda Karya Gaël Faye
Vito Ilham Sectiocesario, Dr. Arifah Arum Candra Hayuningsih, S.S., M.A.
2026 | Skripsi | SASTRA PERANCIS
Penelitian ini mengkaji fungsi diam sebagai medium transmisi trauma generasi penyintas genosida terhadap Tutsi tahun 1994 pada novel Jacaranda (2024) karya Gaël Faye. Penelitian ini melakukan identifikasi pada narasi yang mengandung wacana trauma pada korban genosida serta internalisasi trauma dalam diri tokoh generasi kedua yang lahir pascagenosida. Penelitian ini membagi klasifikasi generasional para tokoh guna memperjelas relasi trauma yang diwariskan. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ciri dan karakteristik tiap generasi korban genosida di Rwanda dan memahami fungsi diam sebagai medium pewarisan trauma. Dalam proses penelitian, digunakan teori postmemory oleh Marianne Hirsch untuk mendalami klasifikasi generasional dan mekanisme pewarisan trauma. Selain itu, juga digunakan novel Murambi, Buku tentang Tulang Belulang (2023) sebagai konteks genosida terhadap Tutsi pada tahun 1994. Data yang telah didapat kemudian diklasifikasikan ke dalam empat kategori, kemudian dilakukan analisis melalui pendekatan kualitatif-deskriptif. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat tiga klasifikasi generasi, yakni generasi penyintas, generasi 1.5, dan generasi kedua. Ciri khas pada generasi penyintas merupakan mereka yang mengalami pengusiran, menyaksikan terbunuhnya anggota keluarga terdekat, dan keterasingan di lingkungan keluarga. Generasi 1.5 merupakan penyintas anak-anak dengan ciri khas trauma yang termanifestasi dalam mimpi buruk, serta generasi kedua yang merupakan generasi yang lahir setelah perang atau kejadian traumatis. Selanjutnya, proses pewarisan trauma dari generasi penyintas kepada generasi kedua dapat terjadi melalui historical withholding, gestur tubuh, dan pengelakan verbal. Efek yang ditimbulkan dari trauma tersebut juga dapat dilihat secara fisik dan mental pada generasi kedua seolah memori trauma tersebut dialami oleh dirinya sendiri.
This study examines the function of silence as a medium for the transmission of trauma across generations of survivors of the 1994 genocide against the Tutsi in the novel Jacaranda (2024) by Gaël Faye. It identifies narratives that articulate discourses of trauma among genocide survivors as well as the internalization of trauma in second-generation characters born after the genocide. The study also establishes a generational classification of characters to clarify the relational dynamics of trauma transmission. Drawing on Marianne Hirsch’s theory of postmemory, this research analyzes generational distinctions and mechanisms through which trauma is inherited. The novel Murambi, Buku tentang Tulang Belulang (2023) is additionally used as a contextual reference to situate the 1994 genocide against the Tutsi. The data are classified into four categories and analyzed using a qualitative descriptive approach. The findings reveal three generational classifications: the survivor generation, the 1.5 generation, and the second generation. The survivor generation is characterized by experiences of forced displacement, witnessing the killing of close family members, and alienation within the family. The 1.5 generation consists of child survivors whose trauma manifests primarily through nightmares, while the second generation comprises individuals born after the war or traumatic event. The transmission of trauma from survivors to the second generation occurs through historical withholding, bodily gestures, and verbal avoidance, producing physical and psychological effects in the second generation as if the traumatic memory had been directly experienced.
Kata Kunci : Jacaranda, postmemory, genosida terhadap Tutsi, Gaël Faye