Otoritas Suara Narator Dan Communal Voice Pada Malam Seribu Jahanam Karya Intan Paramaditha
Intan Fajriyah, Dr. Cahyaningrum Dewojati, S.S., M.Hum
2026 | Tesis | S2 Sastra
Dalam karya sastra yang ditulis oleh perempuan, otoritas naratif tidak hanya hadir sebagai strategi penceritaan saja. Akan tetapi, otoritas naratif digunakan sebagai ruang perempuan untuk menegosiasikan suara, pengalaman, dan menjadi subjek pencerita dalam struktur naratif. Salah satu karya sastra yang menggunakan otoritas naratif sebagai strategi penceritaan adalah Malam Seribu Jahanam karya Intan Paramaditha. Malam Seribu Jahanam mengisahkan tentang tragedi bom bunuh diri yang dilakukan oleh Annisa di gereja waria, yang mengantarkan peralihan otoritas suara antara narator authorial dan communal voice. Peralihan otoritas suara narator ditandai sejak kemunculan tokoh Rosalinda di akhir cerita, Rosalinda tidak hanya tokoh tambahan melainkan penentu penting dalam peralihan otoritas naratif. Intan Paramaditha juga menghadirkan nama Anggun Pradesha dalam epilog novelnya, sebagai tokoh yang menyumbang perspektif transpuan pada penggarapan tokoh Rosalinda. Penelitian ini menggunakan pendekatan naratologi feminis untuk mengungkapkan mekanisme peralihan otoritas suara narator yang terjadi antara narator authorial dan communal voice, serta menelusuri fusion of voices yang terjadi dan implikasi politik di dalamnya. Proses fusi suara yang terjadi pada Malam Seribu Jahanam bukan sekedar pergantian sudut pandang narator, melainkan tentang suara transpuan yang direpresentasikan oleh Rosalinda justru memperkuat hierarki sekaligus otoritas naratif yang sudah dikonstruksi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Malam Seribu Jahanam belum mampu menyerahkan otoritas representasi penuh kepada tokoh transpuan, melainkan fusi suara yang terjadi justru memperkuat otoritas naratif dominan. Dengan kata lain, suara Rosalinda sebagai transpuan belum merepresentasikan suara komunal transpuan secara utuh. Multivokalitas yang dihadirkan dalam Malam Seribu Jahanam hanya berhenti pada representasi, bukan legitimasi terhadap eksistensi identitas transpuan secara menyeluruh.
In literary works written by women, narrative authority is not merely a storytelling strategy, rather, it functions as a space for women to negotiate voice, experience, and to become the subject of narration within the narrative structure. One such literary work that employs narrative authority as a storytelling strategy is Malam Seribu Jahanam by Intan Paramaditha. Malam Seribu Jahanam recounts the tragedy of a suicide bombing carried out by Annisa in a transwomen’s church, an event that precipitates a shift in narrative authority between the authorial narrator and the communal voice. This shift is marked by the emergence of the character Rosalinda at the end of the story, Rosalinda is not merely an additional figure but a crucial determinant in the transition of narrative authority. Intan Paramaditha also introduces the name Anggun Pradesha in the novel’s epilogue, a figure who contributes a transwoman’s perspective to the construction of the character Rosalinda. This study employs a feminist narratological approach to uncover the mechanism by which narrative authority shifts between the authorial narrator and the communal voice, and to trace the fusion of voices that occurs and its political implications. The process of voice fusion in Malam Seribu Jahanam is not simply a change in narrative point of view, rather, it concerns the way the trans voice represented by Rosalinda in fact reinforces existing hierarchies and the narrative authority already constructed. The findings demonstrate that Malam Seribu Jahanam has not been able to cede full representational authority to the transwoman character, instead, the fusion of voices occurs ultimately strengthens the dominant narrative authority. In other words, Rosalinda’s voice as a transwoman has not fully represented the communal voice of transwomen. The multivocality presented in Malam Seribu Jahanam stops at representation and falls short of legitimizing the existence of trans identity in a comprehensive manner.
Kata Kunci : Otoritas Suara Naratif, Communal Voice, Fusion of Voices, Implikasi Politik, Malam Seribu Jahanam