QUEER NARRATIVE & RELATIONALITY OF FORM IN WE CONTAIN MULTITUDES: EPISTOLARY AS A SPACE FOR IDENTITY, INTIMACY, AND RESISTANCE
AWAHAF SAHRANI, Prof. Dr. Faruk, S.U.
2026 | Tesis | S2 Sastra
Selama satu dekade terakhir (2015–2025), narasi queer secara bertahap bergerak dari pinggiran menuju arus utama, dengan visibilitas yang semakin meningkat di berbagai media seperti sastra, film, televisi, dan khususnya fiksi remaja (young adult). Pergeseran ini memicu perdebatan berkelanjutan mengenai representasi queer: siapa yang berhak menceritakannya, bagaimana kisah queer seharusnya disampaikan, serta bentuk naratif apa yang paling merefleksikan pengalaman queer. Dalam sastra queer young adult (YA), pertanyaan-pertanyaan ini menjadi semakin mendesak, mengingat genre ini kerap menavigasi pembentukan identitas melalui proses coming of age dan coming out. Sementara banyak novel queer YA kontemporer masih terikat pada bentuk konvensional dan dibangun melalui alur linear yang berpusat pada krisis dan resolusi, We Contain Multitudes (2019) tampil berbeda melalui penggunaan bentuk yang tidak konvensional, yaitu bentuk epistolaris.
Penelitian ini mengkaji bagaimana novel tersebut membayangkan ulang penggunaan bentuk epistolaris melalui kerangka narratologi queer. Dengan bertumpu terutama pada teori naratif queer dan relasionalitas bentuk dari Tyler Bradway, serta teori epistolaritas Janet Gurkin Altman dan narratologi Gérard Genette, studi ini menganalisis bagaimana bentuk epistolaris berfungsi bukan sekadar sebagai pilihan gaya, melainkan sebagai modus relasionalitas queer. Melalui pembacaan dekat terhadap korespondensi dalam novel—dengan fokus pada mediasi naratif, keterlambatan temporal, pergeseran fokalisasi, serta dinamika kepercayaan antara pengaku dan penerima pengakuan—analisis ini menunjukkan bagaimana ke-queer-an muncul melalui praktik menulis, menunggu, dan saling menyapa secara timbal balik, alih-alih melalui resolusi perkembangan. Alih-alih memperlakukan surat sebagai pilihan gaya yang netral atau semata-mata estetis, penelitian ini berargumen bahwa epistolaritas berfungsi sebagai arsitektur emosional novel—sebuah ruang termediasi tempat keintiman terbangun melalui penundaan, fragmentasi, kerahasiaan, dan alamat timbal balik.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa We Contain Multitudes memperluas kemungkinan penceritaan queer dalam sastra YA. Dengan menolak teleologi perkembangan, serta menghargai dan memprioritaskan keberlangsungan daripada resolusi, novel ini membingkai ulang masa remaja sebagai ruang becoming yang berkelanjutan. Penolakannya terhadap penutupan yang definitif menjadi gestur yang bermakna: relasi queer tidak muncul sebagai titik akhir, melainkan sebagai praktik yang terus berlangsung. Pada akhirnya, penelitian ini berargumen bahwa novel tersebut mentransformasikan bentuk epistolaris menjadi modus keberlangsungan hidup dan keintiman queer, dengan menunjukkan bagaimana aktivitas menulis, membaca, dan merasakan beroperasi sebagai tindakan kepedulian lintas jarak, sekaligus memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejumlah pengalaman queer.
Over the past decade (2015–2025), queer narratives have moved steadily from the margins toward the mainstream, appearing with increasing visibility across media such as literature, film, television, and specifically young adult fiction. This shift has sparked ongoing debates about queer representation: who gets to tell it, how queer stories should be told, and what narrative forms best reflect queer experience. Within queer young adult (YA) literature, these questions are especially urgent, as the genre often navigates identity formation through the processes of “coming of age” and “coming out.” While many contemporary queer YA novels remain tied to conventional form and are built around linear plots of crisis and resolution, We Contain Multitudes (2019) stands apart in its use of an unconventional form: the epistolary.
This study examines how the novel reimagines the use of epistolary form through the framework of queer narratology. Drawing primarily on Tyler Bradway’s queer narrative theory and relationality of form, alongside Janet Gurkin Altman’s theory of epistolarity and Gérard Genette’s narratology, this study analyzes how the epistolary form functions not merely as a stylistic choice but as a mode of queer relationality. Through close reading of the novel’s correspondence—focusing on narrative mediation, temporal delay, shifting focalization, and confidant–confidence dynamics—the analysis demonstrates how queerness emerges through practices of writing, waiting, and reciprocal address rather than through developmental resolution. Rather than treating letters as a neutral or purely aesthetic stylistic choice, this research argues that epistolarity functions as the novel’s emotional architecture—a mediated space where intimacy unfolds through delay, fragmentation, secrecy, and reciprocal address.
The findings suggest that We Contain Multitudes expands the possibilities of queer storytelling in YA literature. By resisting developmental teleology and valuing endurance over resolution, the novel reframes adolescence as a space of continual becoming. Its refusal of definitive closure becomes a meaningful gesture: queer relation emerges not as an endpoint but as an ongoing practice. Ultimately, this study argues that the novel transforms epistolary form into a mode of queer survival and intimacy, showing how writing, reading, and feeling operate as acts of care across distance, offering a deeper understanding of queer experiences.
Kata Kunci : Queer Narratology, Queer Relationality, Queer Young Adult, Epistolary Form