Persepsi Sosial Teman Sebaya Usia Remaja terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi
SALSABILA, Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D
2026 | Skripsi | PSIKOLOGI
Pendidikan inklusi
merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada
semua anak. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana persepsi
sosial teman sebaya, khususnya remaja dalam memaknai dan merespons keberadaan Anak
berkebutuhan Khusus. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengeksplorasi dan
memahami secara mendalam terkait persepsi sosial teman sebaya usia remaja
terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah inklusi. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif. Data primer didapatkan secara langsung
dengan melakukan wawancara kepada 4 siswa (remaja usia 17-18 tahun) dari salah satu sekolah inklusi di Surabaya.
Data penelitian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian
dijelaskan dalam 5 tema besar: (1) Anak Berkebutuhan Khusus berhak mendapatkan
keseteraan hak dan keadilan sosial (2)
Perasaan simpati dan jengkel bercampur terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (3) Anak
Berkebutuhan Khusus dianggap sebagai individu dengan ketergantungan yang kuat
(4) Anak Berkebutuhan Khusus memiliki kelompok sendiri (5) Dukungan terhadap Anak
Berkebutuhan Khusus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi sosial
bersifat ambivalen. Secara kognitif, remaja memiliki kesadaran normatif yang
tinggi mengenai hak kesetaraan Anak Berkebutuhan Khusus dan mendukung sistem
inklusi. Namun, secara afektif dan konatif, mereka menunjukkan jarak sosial.
Inclusive education is an educational system that provides opportunities for all children. However, its effectiveness relies heavily on the social perception of peers, particularly adolescents, regarding how they interpret and respond to the presence of children with special needs (CWSN). This study aims to explore and gain an in-depth understanding of the social perception of adolescent peers toward CWSN in inclusive schools. This study employs a qualitative approach. Primary data were collected directly through interviews with four students (adolescents aged 17–18 years old) from an inclusive school in Surabaya. The research data were analyzed using thematic analysis. The results are explained through five major themes: (1) Peers with special needs are entitled to equal rights and social justice; (2) Mixed feelings of sympathy and annoyance toward peers with special needs; (3) Peers with special needs are perceived as highly dependent individuals; (4) Peers with special needs have their own groups; and (5) Support for peers with special needs. The findings indicate that social perception is ambivalent. Cognitively, adolescents possess high normative awareness regarding the equal rights of CWSN and support the inclusive system. However, affectively and conatively, they exhibit social distance.
Kata Kunci : persepsi sosial, teman sebaya, remaja, anak berkebutuhan khusus, sekolah inklusi