Laporkan Masalah

Persepsi Masyarakat Jepang Terhadap Fenomena Ganguro dan Dampaknya Bagi Perubahan Standar Kecantikan Perempuan Jepang

Fevallia Shasta Zahrah, Lili Febriyani, S.S., M.Si.

2025 | Skripsi | SASTRA JEPANG

Setiap budaya memiliki pandangan berbeda tentang kecantikan. Misalnya, di Amerika kulit cokelat dianggap menarik, sementara di Jepang, kulit putih telah lama dijadikan standar kecantikan. Sejak zaman Edo, perempuan Jepang gemar menggunakan bedak putih untuk menunjukkan kulit cerah yang menjadi ciri khas kecantikan mereka. Namun, tren ini berubah pada tahun 1990-an, dengan munculnya gaya Ganguro yang menonjolkan kulit gelap dan riasan mencolok, berbeda jauh dari standar tradisional Jepang.

Berdasarkan latar permasalahan tersebut, penelitian ini menjadi penting untuk melihat bagaimana persepsi masyarakat Jepang mengenai fenomena Ganguro. Selain itu fenomena Ganguro ini menantang konvensi standar kecantikan Jepang, sehingga secara lebih lanjut penelitian ini melihat lebih jelas bagaimana dampak fenomena Ganguro terhadap standar kecantikan di Jepang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori semiotika Roland Barthes dan teori feminisme Naomi Wolf. Metode yang dipakai adalah wawancara dengan masyarakat asli Jepang digunakan untuk mengumpulkan data dan pemahaman yang komperhensif tentang persepsi masyarakat Jepang terhadap fenomena Ganguro. Kajian terhadap media dan studi literatur seperti jurnal dan buku digunakan juga untuk mendukung analisis makna, tanda dan simbol yang ada dalam gaya Ganguro.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Jepang tidak menganggap Ganguro sebagai standar kecantikan utama namun hanya sekadar ekspresi diri. Selain itu, fenomena Ganguro mempunyai dampak pada perubahan standar kecantikan perempuan Jepang, seperti dekadensi moral, pemberontakan terhadap standar kecantikan, perubahan media massa dan industri kecantikan, serta perlawanan terhadap patriarki yang ada di Jepang.

Every culture has its own perception of beauty. For example, in America, brown skin is considered attractive, while in Japan, fair skin has long been regarded as the beauty ideal. Since the Edo period, Japanese women have commonly used white powder to achieve a bright complexion, which has been a defining feature of traditional Japanese beauty. However, this trend changed in the 1990s, with the emergence of the Ganguro style, which emphasizes dark skin and bold makeup, a stark departure from traditional Japanese standards.

Based on the background, this research is crucial to examine Japanese public perceptions of the Ganguro phenomenon. Furthermore, the Ganguro phenomenon challenges conventional Japanese beauty standards. Therefore, this research seeks to examine more deeply how the Ganguro phenomenon impacts Japanese beauty ideals.

This study employs a descriptive qualitative approach using Roland Barthes semiotic theory and Naomi Wolf’s feminist theory. Interviews with native Japanese participants were conducted to collect data and gain a comprehensive understanding of Japanese perceptions toward the Ganguro phenomenon. In addition, media analysis and literature studies such as journals and books were used to support the analysis of meanings, signs, and symbols embedded in Ganguro style.

The results of this study indicate that Japanese society does not regard Ganguro as a primary beauty standard, but rather as a form of self-expression. Moreover, the Ganguro phenomenon has an impact in Japanese women’s beauty standards, including aspects such as moral decadence, rebellion against beauty norms, transformations in mass media and the beauty industry, and resistance to patriarchy within Japanese society.

Kata Kunci : Ganguro, Persepsi Masyarakat, Standar Kecantikan, Perempuan Jepang

  1. S1-2025-479842-abstract.pdf  
  2. S1-2025-479842-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-479842-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-479842-title.pdf