Laporkan Masalah

Pemakaman Vertikal dan Pusat Layanan Duka di Bandung dengan Pendekatan Arsitektur Eksperimental

Marvella Felicia, Wisnu Agung Hardiansyah, S.Ars., M.Arch.

2025 | Skripsi | ARSITEKTUR

Di tengah peningkatan angka kematian yang diproyeksikan akan terus terjadi, kebutuhan akan layanan kematian menjadi suatu hal yang harus dipenuhi. Selama ini, fasilitas kematian seperti pemakaman seringkali menjadi hal yang terpisahkan dari lingkungan hidup masyarakat. Hal ini juga didukung dengan banyaknya stigma negatif yang melekat dengan kematian, yang kemudian melahirkan sebuah fasilitas yang dihindari oleh masyarakat. Di tengah masyarakat yang heterogen, kebutuhan akan fasilitas kematian yang erat kaitannya dengan nilai-nilai spiritual harus menjadi sebuah layanan yang mudah dijangkau oleh setiap kalangan agama. Namun, pada kenyataannya, hal ini masih menjadi permasalahan yang perlu diatasi oleh kota-kota di Indonesia, termasuk Kota Bandung. Keterbatasan lahan pemakaman dan persebarannya yang kurang merata menjadi sebuah masalah yang hampir dirasakan oleh seluruh pemeluk agama di Bandung. Ditambah dengan angka prevalensi depresi yang terbilang cukup tinggi, dapat dikatakan bahwa masyarakat Kota Bandung memiliki resiko mengalami Prolonged Grief Disorder (PGD) yang lebih tinggi ketika menghadapi kedukaan dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Oleh karena itu, diperlukan adanya sebuah fasilitas kematian yang terbuka bagi seluruh agama serta turut berperan dalam membantu proses kedukaan pasca kematian dalam bentuk Pemakaman Vertikal dan Pusat Layanan Duka yang juga dapat berkontribusi terhadap lingkungan hidup di sekitarnya.

Terdapat tiga metode yang digunakan, yaitu melalui: (1) studi pustaka, yang mengkaji kondisi masyarakat Kota Bandung, fungsi Pemakaman Vertikal dan Pusat Layanan Duka, serta Arsitektur Eksperimental sebagai pendekatan yang digunakan; (2) analisis tapak untuk menentukan lokasi yang paling ideal; serta (3) studi kasus untuk mempelajari penerapan fungsi dan pendekatan yang serupa untuk mengatasi permasalahan yang ada. Tujuan peracancangan akan dicapai dengan (1) menciptakan fasilitas yang terbuka bagi semua agama dan mendukung healthy grieving; (2) menciptakan fungsi yang saling terintegrasi; dan (3) menginovasikan pemakaman yang ramah lingkungan untuk menghadirkan perspektif baru mengenai kematian dan pemakaman terhadap masyarakat.

Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai, konsep “Re:LIFE” diusung sebagai upaya menciptakan fasilitas kematian yang dapat membawa manfaat bagi lingkungan disekitarnya, sehingga dapat memberikan perspektif baru mengenai kematian sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihargai dan dirayakan, bukan ditakuti dan dihindari.

Kata kunci: makam vertikal, rumah duka, arsitektur eksperimental, gangguan kedukaan, lingkungan

As mortality rates continue to rise, the demand for end-of-life services has become an urgent necessity. Yet, for years, death-related facilities such as cemeteries have remained detached from everyday life, hidden away due to deep-seated societal stigmas surrounding death. These perceptions have turned burial spaces into places that people tend to avoid rather than integrate into their communities. In a diverse society, access to death care services—especially those tied to spiritual and religious values—should be readily available to people of all faiths. However, many cities in Indonesia, including Bandung, still struggle to provide equitable access to such facilities. Limited burial space and its uneven distribution have posed challenges for people across different religious backgrounds. Compounding this issue, Bandung has a notably high prevalence of depression, increasing the risk of Prolonged Grief Disorder (PGD) among its residents. Compared to other cities, Bandung’s community faces a greater emotional burden when dealing with loss. Therefore, a comprehensive end-of-life facility is needed— a facility that welcomes people of all religions while also playing a role in supporting the grieving process after loss through Vertical Cemetery and Bereavement Support Center which not only provide a dignified resting place but also contribute to the surrounding environment, fostering a more inclusive and compassionate approach to death.

Three methods are used in this study: (1) literature review, which examines the social conditions of Bandung, the function of vertical cemeteries and bereavement centers, and Experimental Architecture as the chosen design approach; (2) site analysis, to determine the most ideal location; and (3) case studies, to explore similar functional and design applications to address existing challenges. The design objectives are: (1) creating a facility that is open to all religions and supports healthy grieving; (2) establishing an integrated functional system; and (3) innovating an eco-friendly burial system, providing a new perspective on death and cemeteries within the community.

Based on these issues and objectives, the concept of "Re:LIFE" is introduced as an effort to create a death-related facility that benefits its surrounding environment. The goal is to shift the societal perspective on death, viewing it as an integral part of life—something to be acknowledged and honored rather than feared and avoided.

Keywords: vertical cemetery, funeral home, experimental architecture, grief disorder, environment

Kata Kunci : makam vertikal, rumah duka, arsitektur eksperimental, gangguan kedukaan, lingkungan

  1. S1-2025-481625-abstract.pdf  
  2. S1-2025-481625-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-481625-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-481625-title.pdf