Pusat Animasi dengan Pendekatan Desain Berbasis Kinerja di Yogyakarta
Farisa Azzahra, Dr. Eng. Nedyomukti Imam Syafii, S.T., M.Sc.
2025 | Skripsi | ARSITEKTUR
Industri animasi
di Yogyakarta memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif, namun
masih menghadapi tantangan berupa minimnya infrastruktur fisik yang mendukung
proses produksi dan kenyamanan kerja animator. Skripsi ini merancang Pusat
Animasi dengan pendekatan Performance-Based Design (PBD), dengan fokus
utama pada kinerja kulit bangunan sebagai strategi untuk meningkatkan
kenyamanan termal dan pencahayaan alami secara pasif. Kulit bangunan dipilih
sebagai elemen kunci karena berperan langsung dalam mengoptimalkan performa
bangunan terhadap iklim tropis Yogyakarta dan efisiensi energi.
Metodologi yang
digunakan mencakup studi literatur, analisis iklim dan tapak, simulasi kinerja
bangunan, serta studi preseden proyek internasional seperti The Edge (Belanda)
dan Passive House Bruck (Austria). Hasil perancangan menghasilkan bangunan
multidisiplin dengan tiga fungsi utama: studio animasi, pusat pelatihan, dan
pusat komunitas. Strategi perancangan kulit bangunan disesuaikan dengan
orientasi tapak, paparan matahari, serta aliran angin lokal untuk mendukung
performa pasif.
Melalui
pendekatan ini, diharapkan bangunan tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional
industri animasi, tetapi juga menjadi prototipe studio animasi berkelanjutan
yang adaptif terhadap iklim dan mendorong produktivitas pengguna.
Yogyakarta’s animation industry holds strong potential
for creative economic development, yet it faces key challenges such as
insufficient physical infrastructure to support production processes and
animator comfort. This thesis proposes the design of an Animation Center using
a Performance-Based Design (PBD) approach, with a primary focus on building
envelope performance to enhance thermal comfort and natural daylighting
through passive means. The building envelope is selected as a critical element
due to its direct impact on climate responsiveness and energy efficiency.
The design methodology involves literature reviews, site
and climate analysis, building performance simulations, and precedent studies
of international projects such as The Edge (Netherlands) and Passive House
Bruck (Austria). The resulting design proposes a multidisciplinary facility
incorporating three main functions: animation studio, training center, and
community space. The envelope design strategy is adapted to site orientation,
solar radiation patterns, and local wind flow to optimize passive performance.
This approach aims to deliver a functional and
sustainable architectural solution that supports the animation industry’s
growth while serving as a prototype for climate-adaptive and
performance-oriented animation studios in Indonesia.
Kata Kunci : Pusat Animasi, Yogyakarta, Desain Berbasis Kinerja, kulit bangunan, kenyamanan termal, pencahayaan alami.