RETURN JOURNEY DAN REKONSILIASI TRAUMA DALAM NOVEL EAT, PRAY, LOVE KARYA ELIZABETH GILBERT
Christ Penthatesia, Dr.phil. Ramayda Akmal, S.S., M.A.
2025 | Tesis | S2 Sastra
Berangkat dari fenomena memuncaknya healing trip yang banyak digunakan sebagai praktik penyembuhan modern, penelitian ini membahas hubungan antara return journey dan proses rekonsiliasi. Penelitian ini melihat bagaimana tokoh Elizabeth Gilbert dalam novel Eat, Pray, Love yang merupakan salah satu travel writing populer menceritakan pengalaman penulisnya untuk keluar dari trauma perceraian, tekanan sosial, dan krisis identitas melalui perjalanan. Dengan menggunakan teori trauma dari Cathy Caruth dan return journey dari Marianne Hirsch, penelitian ini mengkaji bagaimana perjalanan lintas ruang menjadi sarana rekonstruksi memori dan pembentukan identitas baru tokoh. Dengan metode eksplanatif dan teknik close-reading, penelitian ini menganalisis kutipan dan narasi yang menggambarkan bentuk-bentuk manifestasi trauma, proses identifikasi, dan pemaknaan ulang memori traumatis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa return journey atau perjalanan kembali berfungsi sebagai ruang negosiasi antara memori traumatis dan pengalaman baru yang dialami tokoh. Italia menjadi tahap pemulihan tubuh dan kenikmatan dasar, India menjadi ruang konfrontasi batin dan spiritual, sementara Bali menjadi ruang yang menghadirkan keseimbangan pikiran dan kemampuan membuka diri pada cinta baru yang lebih sehat. Setiap tahap perjalanan memicu aktivasi ingatan traumatis yang terfragmentasi akibat perceraian, krisis identitas, dan tekanan sosial. Aktivasi ini memungkinkan tokoh menata ulang memori traumatis dan membangun jarak reflektif untuk memahami masa lalunya secara lebih terstruktur.
Penelitian ini menemukan bahwa rekonsiliasi tercapai melalui perpaduan perjalanan fisik, pemrosesan batin, dan transisi identifikasi dari idiopatik menuju heteropatik yang membantu tokoh memisahkan emosinya dari ekspektasi luar. Dengan demikian, return journey tidak hanya menjadi perpindahan geografis, tetapi juga proses naratif dan psikologis yang berperan dalam penyembuhan trauma dan rekonstruksi identitas. Temuan ini memperkaya kajian sastra trauma dan sastra perjalanan dengan menunjukkan bahwa perjalanan dapat menjadi medium efektif untuk pemulihan dan transformasi diri individu modern.
This study examines the correlation between the return journey and the reconciliation process, departing from the phenomena of peak healing excursions, which are prevalent as a contemporary therapeutic technique. This study examines how the character Elizabeth Gilbert in one of the most well-known travel novels, Eat, Pray, Love, describes the author's journey to overcome the trauma of divorce, social pressure, and identity crisis. This study uses Marianne Hirsch's theory of the return journey and Cathy Caruth's theory of trauma to investigate how the character uses cross-spatial travel to reconstruct memories and create a new identity. This study used explanatory approaches and close-reading techniques to analyze quotations and narratives that depict manifestations of trauma, the identification process, and the reinterpretation of traumatic experiences.
The findings indicate that the return journey serves as a setting for negotiating traumatic events and the characters' new perspectives. Italy serves as a place for physical recovery and simple indulgences, India transforms into a space for introspective and spiritual challenges, and Bali offers an environment that contributes to mental equilibrium and the capacity to embrace a new, healthy affection. Each stage of the journey activates traumatic memories that have become fragmented as a result of divorce, identity crises, and social pressure. In order to have a more structured understanding of her past, this activation enables the character to restructure unpleasant memories and develop reflective distance.
This study finds that reconciliation happens through an integration of physical travel, inner processing, and a transformation in identification from idiopathic to heteropathic, which allows the character to separate their emotions from external expectations. Thus, the return journey is more than just a geographical movement; it is also a narrative and psychological process that is beneficial in trauma healing and identity reconstruction. By demonstrating that travel can be a useful tool for modern people's healing and transformation, these findings contribute to the study of trauma literature and travel writing.
Kata Kunci : return journey, rekonsiliasi trauma, identifikasi memori, travel writing, eat pray love